Gedung Putih Diam-Diam Ajak Perusahaan AS 'Serbu' Minyak Venezuela

1 day ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi telah melakukan komunikasi dengan sejumlah perusahaan minyak terkait potensi investasi di Venezuela, menyusul perubahan politik besar yang terjadi di negara Amerika Selatan tersebut.

Langkah ini memperkuat sinyal bahwa Washington tengah mempersiapkan strategi jangka panjang untuk membangun kembali sektor energi Venezuela yang selama bertahun-tahun terpuruk akibat krisis ekonomi, sanksi internasional, dan kebijakan nasionalisasi di era pemerintahan sebelumnya.

Dikutip dari CNBC. Seorang Pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa pembicaraan awal dengan perusahaan-perusahaan minyak telah dilakukan, meski belum mengungkapkan secara rinci perusahaan mana saja yang terlibat maupun waktu pelaksanaan komunikasi tersebut.

Pernyataan ini sejalan dengan pidato Presiden Trump pada akhir pekan lalu, di mana ia menegaskan bahwa perusahaan minyak Amerika Serikat siap menggelontorkan investasi bernilai miliaran dolar untuk membangun kembali infrastruktur minyak Venezuela yang disebutnya telah “dihancurkan oleh rezim Maduro yang tidak sah.”

Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, namun produksinya anjlok drastis dalam satu dekade terakhir akibat minimnya investasi dan lemahnya tata kelola industri energi. Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi perusahaan minyak asing, khususnya dari AS, untuk kembali masuk dan memulihkan kapasitas produksi.

Pernyataan resmi Gedung Putih pun memicu perhatian pelaku pasar dan investor global, yang menilai keterlibatan perusahaan minyak AS dapat menjadi katalis pemulihan sektor energi Venezuela sekaligus memperkuat pengaruh Amerika Serikat di kawasan Amerika Latin.

Gedung Putih: Perusahaan Minyak AS Siap Investasi

Juru bicara Gedung Putih, Taylor Rogers, menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat siap dan bersedia melakukan investasi besar di Venezuela.

Menurutnya, investasi tersebut akan difokuskan pada pembangunan kembali infrastruktur minyak yang rusak parah selama pemerintahan Presiden Nicolas Maduro.

“Semua perusahaan minyak kami siap dan bersedia melakukan investasi besar di Venezuela yang akan membangun kembali infrastruktur minyak mereka, yang dihancurkan oleh rezim Maduro yang tidak sah," kata Rogers dalam pernyataannya.

Namun, Gedung Putih belum mengungkapkan perusahaan mana saja yang telah dihubungi atau sejauh mana pembicaraan tersebut berkembang.

Chevron, Conoco, dan Exxon Masih Bungkam

Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa perusahaan minyak besar AS seperti Chevron, ConocoPhillips, dan Exxon Mobil belum melakukan pembicaraan dengan pemerintah terkait penggulingan Maduro. Menurut laporan CNBC, mereka telah menghubungi ketiga perusahaan tersebut untuk meminta tanggapan resmi, namun belum menerima jawaban hingga berita ini diturunkan.

Chevron saat ini menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih beroperasi di Venezuela melalui kerja sama dengan perusahaan minyak negara PDVSA.

Sementara itu, ConocoPhillips dan Exxon Mobil memiliki sejarah panjang di Venezuela sebelum hengkang akibat kebijakan nasionalisasi, serta masih memiliki klaim finansial bernilai miliaran dolar terhadap pemerintah Caracas.

Pertemuan Energi Jadi Sorotan

Menteri Energi AS Chris Wright dijadwalkan menghadiri konferensi energi yang diselenggarakan Goldman Sachs di Miami pada pekan ini.

Sejumlah eksekutif dari perusahaan minyak besar, termasuk Chevron dan ConocoPhillips, juga diperkirakan hadir dalam forum tersebut.

Pertemuan ini dinilai menjadi ajang strategis untuk membahas masa depan industri energi, termasuk peluang investasi di Venezuela pasca perubahan politik.

Meski demikian, para analis menilai realisasi investasi masih sangat bergantung pada stabilitas keamanan, kepastian hukum, serta arah kebijakan sanksi Amerika Serikat ke depan.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |