Cerita Bahlil Soal Proyek RDMP: Dulu Diresmikan Soeharto, Kini Bangkit di Era Prabowo

3 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, menyebut Presiden Prabowo Subianto adalah Presiden kedua yang meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) setelah Presiden Soeharto.

Ia menyampaikan dalam sejarah Indonesia pasca-Orde Lama, hanya dua presiden yang tercatat meresmikan proyek RDMP. Presiden pertama adalah Soeharto pada 1994, dan yang kedua adalah Presiden Prabowo Subianto pada 2026.

"Bahwa kita meresmikan RDMP itu terakhir tahun 1994. Jadi dalam sejarah bangsa, Pasca Orde Lama, cuma dua Presiden yang meresmikan RDMP. Satu adalah Presiden Pak Harto terakhir tahun 1994, dan 32 tahun kemudian Presiden Prabowo Subianto meresmikan RDMP pada 2026," kata Bahlil dalam Peresmian RDMP Balikpapan, Senin (12/1/2026).

Bahlil menilai momen ini bukan sekadar peresmian infrastruktur, tetapi simbol kebangkitan kembali industri pengolahan migas nasional. RDMP menjadi penanda keseriusan negara membangun fondasi kemandirian energi setelah puluhan tahun bergantung pada impor BBM.

"Ini sungguh luar biasa karena sejalan dengan visi bahwa Presiden sebagaimana tercantum dalam Asta cita butir kedua. Dalam perspektif itu maka kami sebagai pembantu bahwa Presiden selalu melakukan terobosan untuk bagaimana bisa meningkatkan lifting," ujarnya.

Banyak Drama dalam Pembangunan RDMP Balikpapan

Disisi lain, Bahlil mengungkapkan bahwa proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina di Balikpapan tidak berjalan mulus sejak awal.

Proyek strategis nasional ini bahkan sempat mengalami keterlambatan signifikan dari target awal yang seharusnya rampung pada Mei 2024. Bahlil secara terbuka menyebut bahwa RDMP “banyak dramanya”.

"Proyek RDMP ini bahwa Presiden banyak dramanya. Saya harus jujur katakan banyak dramanya, kenapa? Seharusnya sudah jadi tahun awal bulan, awal Mei 2024," ujarnya.

Insiden Kebakaran

Lanjut Bahlil, salah satu peristiwa paling krusial adalah insiden kebakaran yang terjadi pada fasilitas proyek. Namun, Bahlil menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak serta-merta dianggap sebagai musibah biasa.

"Tapi ini terbakar. Ada bagian yang dibakar. Saya tidak mengerti apakah dibakar karena terbakar atau dibakar karena ada faktor lain," ujarnya.

Ia pun mencium adanya kejanggalan yang mendorong dilakukannya investigasi mendalam oleh inspektorat internal Kementerian ESDM bersama jajaran komisaris Pertamina. Hasil penelusuran awal mengindikasikan adanya kepentingan tertentu "Ada udang di balik batu".

"Bulan Agustus, saya memerintahkan tim saya dari Irjen yang sekarang masih komisaris Bapak Irjen kami, komisaris di Pertamina, Pak Bambang, kami minta untuk investigasi, Pak. Ternyata barang ini, Pak, ada udang dibalik batu," pungkasnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |