Bukan Emas, Dolar Kini Jadi Safe Haven di Tengah Perang AS-Iran

7 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Bayang-bayang krisis ekonomi masa lalu kembali mencuat seiring memanasnya situasi geopolitik global. Analis memperingatkan bahwa dampak konflik saat ini bisa menyerupai efek jangka panjang Perang Teluk. posisi dolar AS sebagai aset penyelamat jauh lebih kuat dibandingkan emas.

Analis pasar keuangan Ibrahim Assyiabi menilai, dolar AS saat ini lebih berperan sebagai safe haven dibanding emas, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. 

Menurut Ibrahim, kondisi tersebut berpotensi mendorong penguatan dolar dalam jangka lebih panjang. Ia bahkan membandingkan situasi saat ini dengan konflik berkepanjangan seperti Perang Teluk yang berdampak hingga krisis ekonomi global 2008.

“Dalam kondisi sekarang, bukan emas yang jadi safe haven, tapi dolar. Geopolitik akan membuat dolar semakin kuat dan dampaknya bisa panjang,” ujarnya kepada Liputan6.com, Kamis (19/3/2026).

Ia menyarankan pelaku pasar untuk tidak terburu-buru melepas dolar yang dimiliki hingga situasi mereda. Di sisi lain, peluang akumulasi dinilai masih terbuka.

“Lebih baik ditahan dulu, jangan dijual sampai kondisi Timur Tengah membaik. Kalau mau masuk lagi, sebaiknya di bawah Rp 17.000 per dolar AS,” kata Ibrahim.

Harga Emas Melemah 6 Hari Beruntun

Harga emas dunia melemah tajam setelah bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan.

Mengutip CNBC, Kamis (19/3/2026), Harga emas spot tercatat turun 2,2% menjadi USD 4.895,61 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas juga merosot 2,4% ke level USD 4.889,80 per ounce.

Keputusan The Fed ini sebenarnya sudah sesuai dengan ekspektasi pasar. Bank sentral tetap mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5% hingga 3,75%.

Meski demikian, The Fed masih memproyeksikan adanya satu kali penurunan suku bunga pada 2026.

Dalam pernyataan resminya, The Fed hanya melakukan sedikit perubahan terhadap pandangan ekonomi. Mereka mencatat pertumbuhan ekonomi sedikit lebih cepat dan proyeksi inflasi yang lebih tinggi untuk 2026.

The Fed memperkirakan ekonomi AS akan tumbuh 2,4% tahun ini, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Meski ketidakpastian meningkat, pejabat The Fed tetap memberi sinyal adanya peluang pemangkasan suku bunga ke depan.

Harga Emas Melemah 6 Hari, Inflasi dan Energi Jadi Tekanan

Sedangkan dikutip dari The Street, pada perdagangan Kamis pagi di sesi Asia, harga emas (XAU/USD) kembali mengalami tekanan dan berada di kisaran USD 4.830 per ounce. Penurunan ini menandai pelemahan selama enam hari berturut-turut, menjadi tren terburuk sejak akhir 2024.

Tekanan terhadap emas dipicu pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang menilai kenaikan harga energi akan mendorong inflasi lebih tinggi.

The Fed kembali menahan suku bunga dalam pertemuan Maret—menjadi kali kedua berturut-turut tanpa perubahan—di tengah ketidakpastian ekonomi akibat perang Iran dan inflasi yang masih tinggi.

Meski bank sentral masih memberi sinyal pemangkasan suku bunga, pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga pada 2026.

Kepala strategi logam MKS PAMP SA, Nicky Shiels, menilai sikap Powell masih cenderung berhati-hati.

“Powell sedikit menarik kembali pernyataannya, yang tidak seagresif yang dikhawatirkan, namun tetap fokus pada mandat ganda dengan menjaga suku bunga tetap ketat lebih lama,” ujarnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |