Bisnis Emas Jadi Mesin Pertumbuhan Baru BSI, Nasabah Naik 40 Persen

16 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) melihat bisnis bullion bank atau bank emas sebagai peluang baru untuk mempercepat pertumbuhan industri perbankan syariah sekaligus memperluas inklusi keuangan di masyarakat.

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan pengembangan bisnis emas di bank syariah tidak terlepas dari dukungan regulasi pemerintah. Dukungan tersebut mulai dari Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK), regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga fatwa dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).

“Bisnis emas ini butuh fatwa yang jelas agar masyarakat yakin bahwa ini benar-benar sesuai prinsip syariah. Bagi kami di bank syariah, itu sangat penting,” ujarnya dalam acara One Year Bullion Business Activity, Jumat (6/3/2026).

Menurut Anggoro, keberadaan fatwa terkait transaksi emas menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk bullion bank. Hal ini juga mendorong pertumbuhan bisnis emas BSI dalam setahun terakhir.

Pada 2025, jumlah nasabah emas yang dikelola BSI meningkat sekitar 40 persen. Sementara itu, volume perdagangan emas yang dilakukan bank sepanjang tahun lalu mencapai sekitar 4 ton.

“Memang bagi pemain besar mungkin tidak terlalu besar, tapi bagi kami yang baru memulai, angka itu sangat signifikan,” katanya.

Transaksi Emas Berpotensi Naik Dua Kali Lipat

BSI juga mencatat tren positif pada awal tahun 2026. Dalam dua bulan pertama saja, volume transaksi emas telah mencapai sekitar 2,7 ton.

“Artinya tahun ini sangat mungkin trading emas kami bisa meningkat dua kali lipat,” ujar Anggoro.

Menurutnya, bisnis bullion kini menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru bagi perusahaan. Saat ini BSI memiliki dua sumber pertumbuhan utama, yaitu layanan perbankan syariah dan bisnis bullion bank.

“Sekarang kami menyebut BSI memiliki dua engine, yaitu engine bank syariah dan engine bullion bank,” katanya.

Kontribusi bisnis emas juga terlihat dari pertumbuhan jumlah nasabah baru BSI. Sepanjang 2025, bank tersebut menambah sekitar 2 juta nasabah baru, yang merupakan angka tertinggi sejak merger tiga bank syariah menjadi BSI pada 2021.

Dari jumlah tersebut, sekitar 500 ribu nasabah berasal dari produk tabungan emas.

Tak Kurangi DPK

Menariknya, kehadiran produk tabungan emas justru tidak mengurangi dana simpanan nasabah di bank.

“Awalnya kami berpikir kalau nasabah membeli emas, tabungan mereka di bank akan berkurang. Ternyata tidak. Justru tabungan mereka bertambah karena mereka menyiapkan dana untuk membeli emas lagi ketika harga naik,” ujarnya.

Secara keseluruhan, kinerja BSI juga menunjukkan pertumbuhan solid. Pada 2025, total aset bank mencapai sekitar Rp490 triliun atau tumbuh 14 persen secara tahunan. Pembiayaan juga meningkat 14 persen, dengan rasio cost of credit terjaga di sekitar 0,8 persen.

Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 16 persen menjadi Rp380 triliun, tertinggi sejak BSI resmi berdiri melalui merger pada 2021.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |