Berdampak Langsung ke Lingkungan, Isu Keberlanjutan Sektor Pertambangan Kini Jadi Sorotan

3 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Isu keberlanjutan dalam sektor pertambangan semakin menjadi perhatian publik seiring meningkatnya tuntutan terhadap praktik industri yang lebih bertanggung jawab. Pertambangan tidak lagi dipandang semata sebagai aktivitas ekstraksi sumber daya, melainkan juga sebagai sektor yang memiliki dampak langsung terhadap lingkungan, masyarakat sekitar, dan arah transisi energi nasional.

Oleh karena itu, inovasi, efisiensi, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang industri tambang di Indonesia.

Dalam upaya mendorong arah transformasi tersebut, ajang penghargaan nasional MineXcellence 2025 mencapai puncaknya melalui Malam Penganugerahan yang digelar di Plataran Hutan Kota GBK, Jakarta Selatan, awal Januari lalu.

Kegiatan ini menutup rangkaian program kolaboratif sepanjang 2025 yang memberikan pengakuan terhadap inisiatif terbaik di sektor pertambangan mineral dan batubara yang menjunjung tinggi prinsip inovasi, efisiensi, dan keberlanjutan.

Ajang ini dirancang untuk mendorong transformasi sektor pertambangan agar lebih adaptif terhadap tantangan sosial, lingkungan, serta agenda transisi energi nasional yang terus berkembang.

Sekretaris Ditjen Minerba Kementerian ESDM Siti Sumilah Rita, menegaskan bahwa kolaborasi seperti ini penting untuk mendorong percepatan kebijakan Good Mining Practice.

“Melalui kompetisi seperti MineXcellence, kita bisa melihat potensi luar biasa dari pelaku industri dalam berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan,” ungkapnya, Jumat (16/1/2026).

Setelah melalui tahap seleksi proposal, verifikasi, hingga sesi presentasi langsung di hadapan dewan juri independen, sebanyak tujuh perusahaan mempresentasikan delapan inisiatif unggulan yang terseleksi dalam empat kategori utama.

Di antaranya, Inovasi & Rehabilitasi Lahan Pasca Tambang yang diwakili oleh PT Adaro Indonesia dan PT Trimegah Bangun Persada (Harita Nickel), Pemberdayaan Komunitas Lokal sebagai Tenaga Kerja Tambang oleh PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) dan PT Trimegah Bangun Persada, Transformasi Energi Terbarukan & Dekarbonisasi oleh PT Berau Coal serta PT Putra Perkasa Abadi – Site PT Borneo Indobara, serta Efisiensi Operasional & Manajemen Sumber Daya yang diwakili oleh PT ANTAM Tbk dan PT Putra Perkasa Abadi.

Komitmen Sektor Swasta

MineXcellence memberikan tiga jenis penghargaan, yakni Mining Champion, Mining Master, dan Mining Excellence sebagai penghargaan tertinggi.

PT Berau Coal berhasil meraih gelar Mining Excellence 2025 melalui program “Floating Solar PV 3MW & BESS 5MW at Void H3 Site BMO1”, yang dinilai visioner, berdampak luas, serta potensial direplikasi sebagai solusi energi bersih dalam operasional tambang di Indonesia.

“Kami merasa terhormat atas penghargaan ini. Harapan kami, transisi energi tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar dijalankan di lapangan. Terima kasih atas kesempatan dan kepercayaan ini,” ujar Perwakilan PT Berau Coal Jerrymia Rickyando.

VP Sales B2B & Mining Shell Lubricants Indonesia, Farishadi Rukandi menyatakan bahwa ajang ini menjadi bukti nyata komitmen sektor swasta dalam menjawab tantangan global.

"MineXcellence adalah jembatan menuju pertambangan yang lebih efisien dan inklusif. Kami bangga bisa berkolaborasi dengan SRE dan Kementerian ESDM dalam inisiatif ini,” tutup dia.

Harga Patokan Ekspor Konsentrat Tembaga Naik Awal 2026, Emas dan Perak Tak Mau Ketinggalan

Sebelumnya, pemerintah menetapkan Harga Patokan Ekspor (HPE) konsentrat tembaga dengan kadar Cu ≥ 15 persen sebesar USD 6.133,11 per Wet Metrik Ton (WMT) untuk periode kedua Januari 2026. Angka ini naik 4,51 persen dibandingkan HPE pada periode pertama Januari 2026 yang tercatat USD 5.868,51 per WMT.

Kenaikan juga terjadi pada komoditas logam mulia. HPE emas ditetapkan menjadi USD 141.972,92 per kilogram, naik dari sebelumnya USD 138.324,41 per kilogram. Sementara itu, Harga Referensi (HR) emas meningkat menjadi USD 4.415,85 per troy ounce, dibandingkan periode sebelumnya sebesar USD 4.302,37 per troy ounce.

Penetapan HPE dan HR ini tertuang dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertambangan yang Dikenakan Bea Keluar. Aturan tersebut berlaku untuk periode 15–31 Januari 2026.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Tommy Andana, menyebut penguatan HPE konsentrat tembaga tidak lepas dari kenaikan harga mineral penyusunnya di pasar global.

Permintaan Global Masih Solid

“Penguatan HPE konsentrat tembaga dipengaruhi oleh kenaikan harga seluruh mineral penyusunnya, yaitu tembaga, emas, dan perak. Hal ini mencerminkan permintaan global yang tetap kuat,” kata Tommy dalam keterangan tertulis, Kamis (15/1/2026).

Ia menjelaskan, permintaan tersebut terutama berasal dari sektor-sektor strategis dunia, seperti pengembangan industri energi listrik, kendaraan listrik, serta pembangunan infrastruktur di berbagai negara.

Selain faktor permintaan sektor riil, dinamika keuangan global turut mendorong kenaikan harga. Selama periode pengumpulan data, pelemahan dolar Amerika Serikat mendorong investor meningkatkan alokasi dana ke aset komoditas, khususnya emas dan perak.

“Selama periode pengumpulan data, tercatat harga tembaga naik 6,5 persen, emas naik 2,64 persen, dan perak naik 15,95 persen,” jelas Tommy.

Kondisi tersebut secara tidak langsung memperkuat harga konsentrat tembaga yang mengandung ketiga mineral tersebut.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |