Begini Pergerakan Rupiah dan Modal Asing di Awal 2026

1 day ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia menyampaikan perkembangan terkini nilai tukar Rupiah di tengah kondisi perekonomian global dan domestik yang masih dinamis. 

Pada akhir perdagangan Rabu, 31 Desember 2025, Rupiah ditutup pada level Rp 16.670 per dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan respons pasar terhadap berbagai sentimen eksternal, termasuk penguatan mata uang global.

"Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan Bank Indonesia, Sabtu (3/1/2026).

Ia mengatakan memasuki awal tahun, pada pagi hari Jumat, 2 Januari 2026, Rupiah dibuka sedikit melemah di level Rp 16.680 per dolar AS. 

Meski demikian, fluktuasi tersebut dinilai masih dalam rentang yang terkendali dan mencerminkan mekanisme pasar yang berjalan normal.

Pergerakan Yield dan Indeks Global Jadi Perhatian

Dari sisi pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat mengalami penurunan ke level 6,05 persen pada 31 Desember 2025. Penurunan ini menunjukkan persepsi risiko yang relatif terjaga serta minat investor terhadap aset keuangan domestik.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) menguat ke level 98,32. Penguatan dolar AS terjadi seiring dengan meningkatnya imbal hasil US Treasury Note tenor 10 tahun yang naik ke level 4,167 persen.

Pada 2 Januari 2026, yield SBN 10 tahun tercatat relatif stabil di kisaran 6,04 persen. Stabilitas ini menunjukkan pasar obligasi domestik tetap solid meskipun tekanan eksternal masih berlangsung.

Aliran Modal Asing Tunjukkan Sentimen Positif

Sementara itu, Bank Indonesia mencatat alitan modal asing pada Minggu ke-5 Desember 2025 menunjukkan perkembangan yang cukup positif. Premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun per 1 Januari 2026 tercatat sebesar 67,78 basis poin, turun dibandingkan posisi 26 Desember 2025 sebesar 69,95 basis poin, yang mengindikasikan penurunan persepsi risiko terhadap Indonesia.

Berdasarkan data transaksi periode 29–31 Desember 2025, investor nonresiden membukukan beli neto sebesar Rp 2,43 triliun. Aliran tersebut terdiri dari beli neto Rp 1,23 triliun di pasar saham dan Rp 1,66 triliun di pasar SBN, meskipun terdapat jual neto Rp 0,46 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Secara kumulatif sepanjang tahun 2025 hingga 31 Desember, nonresiden tercatat jual neto di pasar saham sebesar Rp 17,00 triliun dan di SRBI sebesar Rp 110,11 triliun, serta beli neto Rp 2,01 triliun di pasar SBN. 

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |