B57+ Asia Pacific Bisa Jadi Opsi Hubungan Bisnis Lintas Negara di Tengah Gejolak Geopolitik

16 hours ago 14

Chairman B57+ Asia Pasifik Arsjad Rasjid menegaskan bahwa konsep halal kini telah melampaui batas tradisional yang selama ini identik dengan produk pangan. Halal, menurutnya, telah berkembang menjadi gaya hidup yang bertumpu pada nilai kepercayaan, kualitas, dan integritas.

Perkembangan tersebut membuat standar halal semakin relevan di berbagai sektor, mulai dari fesyen, layanan kesehatan, hingga logistik dan keuangan syariah. Di sejumlah negara, tren ini bahkan terlihat nyata dalam pertumbuhan pariwisata halal dan penguatan rantai pasok berbasis prinsip syariah.

“Halal tidak terbatas pada urusan pangan. Halal adalah lifestyle, yang berakar pada kepercayaan, kualitas, dan integritas yang kini menjadi standar yang relevan di berbagai sektor, dari fesyen dan kesehatan hingga logistik dan keuangan syariah,” ujarnya dalam Halalbihalal B57+ di Masjid Istiqlal, Rabu (22/4/2026).

Arsjad menyebut, ekonomi halal kini menjadi “bahasa bisnis” yang bersifat universal. Artinya, sektor ini tidak hanya ditujukan bagi komunitas Muslim, tetapi juga diterima secara luas karena menawarkan nilai transparansi dan jaminan kualitas.

Namun, ia mengingatkan bahwa besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi manfaat ekonomi. Salah satu tantangan utama adalah belum kuatnya konektivitas antarnegara, khususnya di antara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan mitra strategisnya.

“Kita melihat ini terjadi di seluruh dunia, di sektor pariwisata, supply chain, hingga keuangan syariah yang berkembang pesat di berbagai negara. Ekonomi halal adalah bahasa bisnis yang semakin universal-inklusif, tumbuh, dan relevan bagi semua,” ungkapnya.

Karena itu, kehadiran B57+ dinilai krusial sebagai jembatan kelembagaan yang mampu memperkuat kerja sama lintas negara. Platform ini diharapkan dapat menghadirkan mekanisme yang lebih terstruktur, terpercaya, dan berdampak dalam mendorong perdagangan serta investasi.

Menurut Arsjad, langkah ke depan tidak cukup berhenti pada identifikasi peluang. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana menerjemahkan potensi ekonomi halal menjadi pertumbuhan yang konkret dan terukur, sekaligus memperkuat kepercayaan antar pelaku usaha di tingkat global.

“Tugas kita adalah menerjemahkan potensi ini menjadi manfaat ekonomi yang nyata,” ucapnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |