Alasan Nvidia Pilih Investasi ke Malaysia Ketimbang Indonesia

16 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS), Nvidia belakangan memilih investasi ke Malaysia ketimbang Indonesia. Salah satunya mengenai kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan Nvidia.

Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Nurul Ichwan mengatakan pertimbangan kualitas SDM itu yang mendasari pilihan Nvidia. Padahal, pemerintah sudah menyiapkan kawasan ekonomi khusus (KEK) di Nongsa, Batam.

"Kalau yang saya sempat dengar bahwa mereka memilih Malaysia, salah satunya karena mereka mendata berapa master, berapa PhD yang tersedia di Indonesia dan di Malaysia sesuai dengan kebutuhan mereka. Suka tidak suka, ternyata dari hasil observasi mereka, Malaysia lebih punya banyak PhD di bidang komputer itu dan juga master di bidang itu," kata Nurul, ditemui di Wisma Danantara, Jakarta, ditulis Sabtu (10/1/2026).

Atas dasar itu, menurutnya perlu ada langkah yang diambil Indonesia. Kedepannya pemerintah mendorong penguatan kualitas SDM berbasis sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). "Jadi ke depan harusnya STEM itu menjadi arus utama bagi peningkatan sumber daya manusia," katanya.

Selain itu, pihaknya mendorong lembaga pendidikan tinggi agar bisa menciptakan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.

"Nah yang harus kita coba cermati ke depan adalah bagaimana baik pemerintah, maupun universitas-universitas negeri dan swasta tidak mengedepankan memproduksi sumber daya manusia yang tidak relevan dengan kebutuhan industri ke depan, yang notabene didukung oleh penguasaan teknologi," tutur Nurul Ichwan.

Bos Nvidia Soal Pajak di Silicon Valley

Sebelumnya, CEO Nvidia Jensen Huang menyatakan sikap yang tidak biasa di tengah polemik rencana penerapan Pajak Miliarder California. Di saat sejumlah tokoh teknologi bereaksi keras bahkan mempertimbangkan hengkang dari negara bagian tersebut, Huang justru mengaku tak mempermasalahkan kebijakan pajak tersebut.

Dalam wawancara, Huang mengatakan, isu pajak tersebut bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Menurut dia, keberadaan Nvidia di Silicon Valley bukan semata karena faktor pajak, melainkan kekuatan sumber daya manusia dan inovasi teknologi yang tak tergantikan.

"Kami bekerja di Silicon Valley karena di sanalah kumpulan talenta terbaik berada," ujar Huang, dikutip dari Forbes, Jumat (9/1/2026).

"Soal pajak apa pun yang ingin mereka terapkan, biarlah. Saya baik-baik saja dengan itu.”

Sikap Berbeda

Pernyataan ini menempatkan Huang pada posisi yang berbeda dibandingkan sejumlah miliarder teknologi lain yang secara terbuka menentang rencana Pajak Miliarder California. Beberapa di antaranya bahkan telah mengambil langkah nyata dengan memindahkan bisnis mereka ke negara bagian lain.

Berbeda dengan Thiel hingga David Sacks, sikap Huang kontras dengan respons dari tokoh seperti Peter Thiel, pendiri Palantir, dan Larry Page, salah satu pendiri Google. Keduanya sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan California.

Pajak Bukan Fokus Utama Bos NVIDIA

Thiel Capital bahkan telah mengumumkan pembukaan kantor baru di Miami sebelum akhir 2025. Sementara itu, sejumlah pemimpin teknologi lainnya, termasuk David Sacks penasihat kecerdasan buatan Presiden AS Donald Trump dan investor modal ventura Chamath Palihapitiya, meluapkan kemarahan mereka melalui media sosial.

Sacks diketahui telah membuka kantor di Austin, Texas, yang selama ini dikenal sebagai tujuan baru para eksekutif teknologi yang ingin menghindari tingginya pajak dan biaya hidup di California.

Namun bagi Huang, perdebatan soal pajak tidak menjadi fokus utama, Huang dengan tegas menanggapi, "Tidak juga, bukan saya. Saya sedang berusaha membangun masa depan AI."

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |