3 Strategi Investasi Gacor ala Warren Buffett, Ubah USD 10.000 jadi Kekayaan

1 day ago 15

Liputan6.com, Jakarta - Warren Buffett kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi saham dan aset keuangan pada 2026. Investor legendaris yang dijuluki Oracle of Omaha ini pernah mengungkap cara sederhana namun disiplin untuk mengubah modal awal sebesar USD 10 ribu, sekitar Rp 168 juta (kurs USD 1 = Rp 16.840) menjadi kekayaan besar dalam jangka panjang.

Dilansir dari finance.yahoo.com, Selasa (13/1/2025), Buffett, yang dikenal sebagai pendukung kuat strategi buy and hold, menekankan bahwa membangun kekayaan bukan soal mencari keuntungan cepat, melainkan tentang kesabaran, pemahaman bisnis, dan konsistensi.

Dalam berbagai kesempatan, termasuk rapat tahunan pemegang saham Berkshire Hathaway, Buffett kerap menjelaskan bahwa investor seharusnya memandang saham sebagai bagian kepemilikan bisnis, bukan sekadar alat spekulasi.

Menariknya, prinsip-prinsip investasi yang disampaikan Buffett sejak akhir 1990-an dinilai masih sangat relevan hingga saat ini, bahkan di tengah dinamika pasar global, lonjakan teknologi kecerdasan buatan (AI), hingga ketidakpastian ekonomi dunia.

Buffett menegaskan, investor pemula tidak perlu mengejar tren atau mengikuti euforia pasar, melainkan fokus pada fundamental perusahaan dan nilai jangka panjang.

Buffett bahkan mengatakan jika ia harus memulai kembali dari nol dengan modal terbatas, pendekatan investasinya tidak akan jauh berbeda. Ia tetap akan berinvestasi pada bisnis yang dipahami, memulai sedini mungkin, dan memanfaatkan peluang di perusahaan kecil yang sering luput dari perhatian investor besar.

Berikut tiga strategi utama Warren Buffett yang dinilai masih relevan dan dapat diterapkan oleh investor pemula maupun berpengalaman pada 2026.

1. Pahami Lingkaran Kompetensi

Buffett menekankan pentingnya berinvestasi hanya pada bisnis yang benar-benar dipahami. Ia menyebut konsep ini sebagai circle of competence atau lingkaran kompetensi. Menurutnya, investor tidak harus memahami semua sektor, cukup fokus pada beberapa industri yang familiar dan memiliki prospek jangka panjang.

Dengan memahami cara kerja bisnis, sumber pendapatan, serta risiko yang melekat, investor akan lebih tenang menghadapi volatilitas pasar. Buffett juga mengingatkan bahwa penurunan harga saham hingga 50 persen bukan alasan untuk panik, selama fundamental bisnis tetap solid.

“Anda harus siap, ketika membeli saham, untuk kemungkinan saham tersebut turun 50% — atau lebih — dan merasa nyaman dengan hal itu, selama Anda merasa nyaman dengan kepemilikan saham tersebut,” katanya.

2. Mulai Investasi Sedini Mungkin

Salah satu kekuatan terbesar dalam investasi menurut Buffett adalah bunga majemuk. Ia mengibaratkan kekayaan seperti bola salju yang menggelinding dari puncak bukit—semakin dini dimulai, semakin besar hasilnya.

"Kami memulai dengan bola salju kecil di atas bukit yang sangat tinggi,” kata dia.

"Kami mulai sejak usia sangat dini menggulirkan bola salju ke bawah, dan tentu saja, sifat bunga majemuk adalah berperilaku seperti bola salju,” tambah Buffet.

Fakta menunjukkan sebagian besar kekayaan Buffett justru terkumpul setelah usia 65 tahun. Pada 1999, kekayaan bersihnya hanya USD 30 miliar,  atau sekitar Rp 504,6 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.820). Saat ini, kekayaannya hampir lima kali lipat lebih besar, yaitu sekitar USD 150 miliar, sekitar Rp 2.526 triliun, menurut Bloomberg. Hal ini menegaskan bahwa waktu dan konsistensi jauh lebih penting dibandingkan modal besar di awal.

3. Fokus pada Perusahaan Kecil Berkualitas

Buffett pernah menyatakan bahwa jika memulai kembali dengan USD 10 ribu, sekitar Rp 168 juta, ia akan mencari perusahaan kecil yang memiliki potensi besar namun belum dilirik pasar. Menurutnya, perusahaan skala kecil sering kali dihargai lebih murah dan memiliki ruang pertumbuhan yang luas.

“Saya mungkin akan fokus pada perusahaan-perusahaan kecil karena saya akan bekerja dengan jumlah yang lebih kecil, dan ada lebih banyak kemungkinan bahwa sesuatu terlewatkan di arena tersebut,” ujar Buffet.

Sejarah mencatat, sejumlah investasi awal Buffett berasal dari bisnis kecil yang kemudian berkembang pesat, seperti See’s Candies dan sejumlah perusahaan regional di Amerika Serikat.

Kedisiplinan

Strategi investasi Warren Buffett menegaskan membangun kekayaan bukan soal keberuntungan, melainkan disiplin, pemahaman, dan kesabaran. Di tengah tantangan ekonomi global tahun 2026, prinsip-prinsip ini tetap menjadi panduan berharga bagi siapa pun yang ingin mengembangkan aset secara berkelanjutan.

Dengan memahami bisnis yang diinvestasikan, memulai lebih awal, dan fokus pada nilai jangka panjang, investor memiliki peluang lebih besar untuk meniru kesuksesan sang legenda investasi.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |