Selat Hormuz Dibuka, Pasar Minyak Global Masih Dibayangi Krisis Pasokan

18 hours ago 17

Liputan6.com, Jakarta - Pembukaan kembali Selat Hormuz setelah Iran dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan pekan ini belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran di pasar energi global. Meski harga minyak sempat turun tajam, sejumlah analis menilai, risiko kenaikan harga minyak masih membayangi akibat menipisnya cadangan minyak dunia.

Kepala Strategi Komoditas Global RBC Capital Markets, Helima Croft, mengatakan pasar seolah menganggap krisis telah berakhir, padahal proses normalisasi pasokan masih membutuhkan waktu panjang.

“Semua orang berpikir masalah ini sudah selesai. Padahal masih ada tantangan logistik besar untuk kembali ke kondisi semula,” katanya seperti dilansir dari CNN, Minggu (21/6/2026).

Dia menuturkan, pembukaan Selat Hormuz hanya menjadi langkah awal. Jalur pelayaran masih perlu dibersihkan, kapal tanker harus kembali beroperasi, dan produksi minyak perlu ditingkatkan sebelum pasokan dapat kembali normal. Proses tersebut diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan.

“Pasar sudah melompat tujuh langkah lebih jauh dari kondisi yang sebenarnya,” ujarnya.

Selama hampir empat bulan konflik berlangsung, pasokan minyak dari Timur Tengah terganggu dan menyebabkan hilangnya sekitar 1,15 miliar barel minyak dari pasar global, menurut data Kpler.

Kondisi tersebut menggerus cadangan minyak dunia. Stok minyak global dilaporkan telah menyusut sekitar 190 juta barel dalam beberapa bulan terakhir, sementara cadangan strategis negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) berada pada level terendah sejak 1990.

Harga minyak Brent yang sempat menyentuh US$ 126,41 per barel saat konflik memuncak kini turun ke bawah US$ 80 per barel setelah tercapainya kesepakatan antara Iran dan AS. Namun, sejumlah pelaku pasar menilai penurunan harga tersebut terlalu cepat dibanding kondisi fundamental yang masih rapuh.

Analis Kpler, Matt Smith, juga memperkirakan harga energi masih berpotensi naik dalam beberapa bulan mendatang karena pasar tetap bergantung pada cadangan yang terus menyusut.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |