BI Rate Naik, Debitur Diimbau Waspada Kenaikan Cicilan Pinjaman

13 hours ago 17

Liputan6.com, Jakarta - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) membawa dampak bagi masyarakat maupun pelaku usaha, terutama yang memiliki pinjaman dengan bunga mengambang atau floating rate. Kondisi ini membuat biaya pinjaman berpotensi meningkat sehingga perlu diantisipasi sejak dini.

Financial Planner sekaligus CEO dan Founder Finansialku, Melvin Mumpuni, mengatakan kenaikan BI Rate umumnya akan diikuti oleh penyesuaian suku bunga kredit perbankan. Dampaknya, debitur dengan skema bunga mengambang berisiko menghadapi cicilan yang lebih besar dibanding sebelumnya.

Menurut Melvin, individu maupun pelaku usaha yang memiliki pinjaman perlu mulai menyusun strategi pengelolaan utang agar tidak terbebani kenaikan bunga dalam jangka panjang.

"Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah mempercepat pelunasan sebagian pokok pinjaman atau mengurangi beban cicilan jika memungkinkan,” ujarnya kepada Liputan6.com, Minggu (21/6/2026).

Ia menjelaskan, pengelolaan utang menjadi semakin penting ketika tren suku bunga bergerak naik. Dengan mengurangi saldo pinjaman lebih cepat, debitur dapat menekan total bunga yang harus dibayarkan ke depan.

Meski demikian, kenaikan BI Rate tidak hanya membawa dampak negatif. Bagi masyarakat yang memiliki dana menganggur, kondisi ini justru membuka peluang memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi dari produk simpanan perbankan.

Melvin menilai, tabungan berjangka dan deposito berpotensi menawarkan tingkat pengembalian yang lebih menarik seiring kenaikan suku bunga.

Selain itu, instrumen pendapatan tetap atau fixed income juga menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan. Produk seperti obligasi negara dan Surat Berharga Negara (SBN) berpeluang memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.

“Kenaikan suku bunga biasanya akan membuat instrumen fixed income menjadi lebih menarik karena yield yang ditawarkan ikut meningkat,” kata Melvin.

Karena itu, di tengah tren kenaikan suku bunga, masyarakat disarankan tidak hanya fokus pada risiko bertambahnya biaya pinjaman, tetapi juga memanfaatkan peluang untuk mengoptimalkan penempatan dana pada instrumen investasi yang sesuai dengan profil risikonya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |