Produksi Pangan Tetap Berjalan di Tiga Wilayah Terdampak Bencana Sumatera

1 day ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan keberlangsungan produksi pangan dan keselamatan petani di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pascabencana menjadi prioritas.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, pendataan kerusakan lahan, sarana produksi, serta dampak terhadap tanaman pangan dan hortikultura di wilayah terdampak banjir dan bencana lainnya terus berjalan.

"Kami tidak menunggu lama. Begitu mendapat laporan dari daerah, tim langsung turun. Negara harus hadir di saat petani menghadapi musibah,” katanya dalam keterangan, Kamis (15/1/2026).

Pendampingan terhadap para petani serta menangani pemulihan sektor pertanian sejak hari pertama masih berlangsung. Selain itu, Amran memastikan, laporan bencana yang diterima, langsung dikoordinasikan untuk langsung bergerak menurunkan tim ke lapangan agar sektor pertanian tetap terlindungi dan petani segera mendapatkan bantuan.

Pihaknya juga menyalurkan bantuan darurat berupa mesin pertanian (alsintan) untuk mempercepat pemulihan lahan pascabencana. Selain itu, ada juga persiapan langkah rehabilitasi lahan pertanian agar aktivitas tanam dapat segera kembali dilakukan.

Di Aceh, kata dia, pihaknya berkoordinasi intensif dengan pemerintah daerah, dinas pertanian setempat, serta kelompok tani untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan di lapangan. 

Sementara di Sumatera Utara, Kementan fokus pada percepatan normalisasi lahan pertanian terdampak banjir agar tidak mengganggu musim tanam dan produksi pangan regional.

"Kami ingin memastikan petani tidak berjuang sendiri. Dengan kerja cepat dan kolaborasi semua pihak, kita optimistis sektor pertanian di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat segera pulih,” ucapnya.

Luas Sawah

Berdasarkan data per 13 Januari 2026, luas sawah terdampak di ketiga provinsi mencapai 107.324 hektare. Rinciannya, sawah rusak ringan seluas 56.077 hektare, rusak sedang 22.152 hektare, dan rusak berat 29.095 hektare. Dari total tersebut, lahan tanaman padi dan jagung yang mengalami puso atau gagal panen mencapai 44,6 ribu hektare.

Selain itu, lahan perkebunan non-sawit seperti kopi, kakao, dan kelapa dalam terdampak seluas 29.310 hektare. Lahan hortikultura yang rusak mencapai 1.803 hektare, sementara jumlah ternak mati atau hilang tercatat lebih dari 820 ribu ekor.

Kementan juga mencatat kerusakan infrastruktur pertanian, antara lain 58 unit Rumah Potong Hewan (RPH), 2.300 unit alsintan hilang, 74 Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) rusak, 3 bendungan rusak, jaringan irigasi rusak sepanjang 152 kilometer, serta 820 unit jalan produksi terdampak.

11.000 Hektare Sawah Aceh-Sumbar Rusak, Mentan Amran Pastikan Musim Tanam Tak Terganggu

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan musim tanam tidak terganggu meski belasan ribu hektare sawah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dia turut memprioritaskan pemulihan sawah terdampak bencana tadi.

Dia mencatat, ada 80 ribu hektare sawah yang terdampak, 11 ribu hektare diantaranya masuk kategori berat. Selain itu, ada pula sejumlah sawah yang ludes atau gagal panen terkena banjir.

"Saya kira tidak (mundur musim tanam). Karena sekarang kan tidak semuanya rusak. Ini 11 ribu yang harus dibangun kembali. Kan ada 80 ribu semua. Tapi ada yang puso, kena banjir," tutur Amran, di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, ditulis Selasa (30/12/2025).

Meski ada kerusakan, dia mencatat jumlahnya masih jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan seluruh luasan sawah secara nasional. "Tapi sawahnya masih ada. Kalau 11 ribu dibagi 7 juta hektare itu sangat kecil," katanya.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) ini pun memastikan pemulihan lahan sawah menjadi prioritas di daerah terdampak bencana Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

"Tim standby di sana. Belum tinggalkan sampai hari ini. Kami minta yang pertama adalah membantu saudara kita," tegasnya.

Stok Beras

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkam stok cadangan beras pemerintah (CBP) mencapao 3,39 juta ton di akhir 2025 ini. Jumlah ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah tanpa adanya impor.

Amran mengatakan, jumlah tersebut menandakan stok beras dalam kondisi yang aman. Mengingat lagi, seluruh stok beras diambil dari produksi petani lokal.

"Ini stok kita per detik ini 3,39 juta ton. Ini tertinggi selama merdeka. Inilah stok tertinggi di akhir tahun selama merdeka. (Jadi) bukan aman, ada sangatnya. (Stok kita) sangat aman," kata Amran, di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, dikutip Selasa (30/12/2025).

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |