Donald Trump Bakal Bertemu Xi Jinping, Hal Ini akan jadi Perhatian

23 hours ago 19

Liputan6.com, Jakarta - Pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada 14-15 Mei 2026 diperkirakan lebih banyak membahas konflik Iran dibanding isu perdagangan yang selama ini membayangi hubungan kedua negara. Perang di Timur Tengah itu dinilai menyita perhatian Washington dan Beijing, termasuk soal dampaknya terhadap stabilitas ekonomi global.

Dilansir dari CNBC, Sabtu (9/5/2026), Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya telah memastikan Iran menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut. Situasi memanas setelah China menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Iran untuk pertama kalinya sejak perang pecah pada akhir Februari lalu.

Langkah Beijing itu sempat memunculkan optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai. Harga minyak turun, sementara bursa saham menguat seiring harapan meredanya konflik.

Di tengah persiapan pertemuan tingkat tinggi itu, pemerintah AS dikabarkan menolak usulan China untuk menggelar forum khusus antara pejabat senior China dan para CEO perusahaan Amerika Serikat. AS khawatir kedekatan bisnis dengan China akan memunculkan persepsi negatif di dalam negeri.

Seorang eksekutif AS yang mengetahui pembahasan tersebut menyebut Gedung Putih hingga kini juga belum resmi mengundang para petinggi perusahaan untuk ikut dalam lawatan Trump ke China. Bahkan, daftar awal yang berisi sekitar dua lusin pemimpin bisnis disebut berpotensi dipangkas.

CEO Boeing, Kelly Ortberg, dilaporkan akan mendampingi Trump dalam kunjungan tersebut. Kehadiran Ortberg dinilai penting karena Boeing tengah berupaya mendapatkan pesanan besar pertama dari China dalam hampir 10 tahun terakhir.

Sementara itu, CEO Citigroup, Jane Fraser, juga mengonfirmasi rencananya ikut dalam rombongan. Menurut Fraser, hubungan antara AS dan China tetap penting bagi dunia usaha.

"Saya pikir sangat penting melihat adanya keterlibatan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia,” ujar Fraser seperti dikutip dari CNBC, Sabtu (9/5/2026).

Ia menambahkan, China masih menjadi pasar strategis bagi Citigroup. Perusahaan itu telah beroperasi di China selama 124 tahun dan memiliki banyak klien multinasional di negara tersebut.

“Kita semua membutuhkan keterlibatan itu terus berlangsung,” imbuhnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |