Top 3: Miliarder Ini Prediksi Sistem Kerja 40 Jam akan Lenyap karena AI

6 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta -  Miliarder sekaligus pengusaha ternama, Mark Cuban, memprediksi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan mengubah sistem kerja tradisional 40 jam per minggu. Menurutnya, teknologi AI berpotensi memungkinkan karyawan bekerja lebih singkat tanpa harus mengalami penurunan gaji.

Dalam serangkaian unggahan di platform X, Cuban menyoroti meningkatnya penggunaan “agen AI”, yakni sistem perangkat lunak yang mampu menyelesaikan berbagai tugas secara mandiri.

Cuban menilai perusahaan yang lebih cepat mengadopsi teknologi AI perlu mengubah cara mereka mengukur produktivitas dan memberi penghargaan kepada karyawan.

"Perusahaan besar yang cerdas akan memungkinkan karyawannya menciptakan dan menggunakan agen AI (dengan batasan keamanan), untuk meningkatkan produktivitas," tulis Cuban dikutip dari newsweek, Sabtu, 28 Maret 2026.

"Namun yang paling penting, mereka akan mengurangi jam kerja harian setidaknya satu jam sebagai awal. Gaji tetap sama," tambah dia.

Ia menegaskan, pengurangan jam kerja bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan kebijakan yang perlu dirancang secara formal oleh perusahaan.

Artikel Miliarder Ini Prediksi Sistem Kerja 40 Jam akan Lenyap karena AI menyita perhatian pembaca di Kanal Bisnis Liputan6.com pada Sabtu, 28 Maret 2026. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di Kanal Bisnis Liputan6.com?

Berikut tiga artikel terpopuler di Kanal Bisnis Liputan6.com yang dirangkum pada Minggu, (29/3/2026):

1. Miliarder Ini Prediksi Sistem Kerja 40 Jam akan Lenyap karena AI

Miliarder sekaligus pengusaha ternama, Mark Cuban, memprediksi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan mengubah sistem kerja tradisional 40 jam per minggu. Menurutnya, teknologi AI berpotensi memungkinkan karyawan bekerja lebih singkat tanpa harus mengalami penurunan gaji.

Dalam serangkaian unggahan di platform X, Cuban menyoroti meningkatnya penggunaan “agen AI”, yakni sistem perangkat lunak yang mampu menyelesaikan berbagai tugas secara mandiri.

Cuban menilai perusahaan yang lebih cepat mengadopsi teknologi AI perlu mengubah cara mereka mengukur produktivitas dan memberi penghargaan kepada karyawan.

"Perusahaan besar yang cerdas akan memungkinkan karyawannya menciptakan dan menggunakan agen AI (dengan batasan keamanan), untuk meningkatkan produktivitas," tulis Cuban dikutip dari newsweek, Sabtu, 28 Maret 2026.

"Namun yang paling penting, mereka akan mengurangi jam kerja harian setidaknya satu jam sebagai awal. Gaji tetap sama," tambah dia.

Berita selengkapnya baca di sini

2. Harga Pangan Hari Ini 28 Maret 2026: Bawang Merah Sentuh Rp 46.100 per Kg

Harga pangan seperti daging ayam ras tembus Rp 43.550 per kilogram (kg) pada Sabtu, (28/3/2026). Selain itu, bawang putih Rp 40.250 per kg dan bawang merah Rp 46.100 per kg.

Demikian berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia dikutip dari Antara, Sabtu (28/3/2026).

Selain itu, harga cabai rawit merah tembus Rp 84.500 per kg. Lalu harga cabai merah besar mencapai Rp 52.000 per kg, cabai merah keriting Rp 51.100 per kg, dan cabai rawit hijau Rp 60.650 per kg.

Kemudian PIHPS mencatat beras kualitas bawah I di harga Rp 14.550 per kg dan beras kualitas bawah II Rp 14.500 per kg. Sedangkan, beras kualitas medium I Rp 16.050 per kg dan beras kualitas medium II di harga Rp 15.900 per kg.

Selanjutnya, beras kualitas super I di harga Rp17.250 per kg dan beras kualitas super II Rp16.800 per kg. Lalu daging sapi kualitas I Rp149.200 per kg dan daging sapi kualitas II di harga Rp140.900 per kg.

Harga komoditas berikutnya yakni gula pasir kualitas premium tercatat Rp 20.050 per kg dan gula pasir lokal Rp 18.850 per kg.

Berita selengkapnya baca di sini

3. Harga Cabai Rawit Merah Masih Tinggi Usai Lebaran 2026, Ini Penyebabnya

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan, penyebab kenaikan harga cabai rawit merah karena faktor cuaca. Kondisi cuaca menghambat proses panen cabai di tingkat petani.

Budi mengatakan, pemerintah telah berkomunikasi dengan asosiasi petani untuk mengidentifikasi akar permasalahan itu. Hasilnya menunjukkan curah hujan yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir menjadi kendala utama dalam proses panen.

"Ya jadi problemnya kami sudah komunikasi dengan asosiasi petaninya, problemnya memang cuaca, jadi salah satunya memanennya itu kan tidak bisa terus, artinya ketika hujan berhari-hari kan pasti nggak bisa memanen. Itu memang yang cabai, cabai rawit merah,” ungkapnya usai peninjauan di Pasar Minggu, Sabtu (28/3/2026).

Meski demikian, ia menegaskan kondisi tersebut hanya terjadi pada komoditas cabai rawit merah. Untuk jenis cabai lainnya, situasi harga dan pasokan masih dalam kondisi normal.

Berita selengkapnya baca di sini

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |