Pertumbuhan Ekonomi 5,61%, Sektor Usaha Ini Diuntungkan dan Tertekan

21 hours ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo, Shinta Kamdani, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% lebih banyak ditopang oleh sektor berbasis konsumsi domestik dan momentum musiman.

"Jika kita melihat struktur pertumbuhan, sektor-sektor yang paling diuntungkan dari capaian 5,61% ini adalah sektor yang berbasis konsumsi domestik dan terdorong oleh momentum musiman," kata Shinta kepada Liputan6.com, Sabtu (9/5/2026).

Ia menjelaskan, sektor dengan pertumbuhan tertinggi (yoy) antara lain penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 13,14%, transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04% (didorong oleh angkutan darat yang tumbuh 10,09%), jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh 7,62%, serta perdagangan besar dan eceran tumbuh 6,26%.

"Sektor-sektor ini jelas mendapatkan manfaat dari demand-driven expansion, khususnya karena lonjakan mobilitas dan konsumsi masyarakat selama periode libur panjang," ujarnya.

Di sisi lain, sektor manufaktur yang merupakan tulang punggung industri nasional justru menunjukkan dinamika yang lebih kompleks. Secara yoy, industri manufaktur tumbuh 5,04%, atau di bawah pertumbuhan ekonomi nasional, dan secara kuartalan mengalami kontraksi -1,01%.

Lebih jauh lagi, 10 dari 16 subsektor manufaktur tumbuh di bawah rata-rata pertumbuhan nasional, dan 4 subsektor bahkan mengalami kontraksi, termasuk industri karet dan plastik (-9,01%), alat angkutan (-5,02%), pengolahan tembakau (-4,05%), serta kayu dan turunannya (-0,02%).

Harga Bahan Baku Naik Industri Plastik Tertekan

Shinta menyoroti untuk industri plastik, tekanan yang dihadapi sangat signifikan. Kenaikan harga naphtha lebih dari 92% sejak awal tahun, yang diikuti dengan kenaikan harga bahan baku plastik sekitar 80%, telah mendorong lonjakan harga produk hingga di atas 50%, bahkan mencapai 100% pada segmen tertentu seperti kemasan UMKM.

"Ini merupakan contoh nyata dari imported inflation dan cost-push pressure akibat kombinasi pelemahan rupiah dan ketegangan geopolitik global, khususnya di Timur Tengah," ujarnya.

Namun demikian, perlu dicatat bahwa di dalam manufaktur juga terdapat subsektor yang tumbuh tinggi, seperti industri mesin dan perlengkapan (21,93%) serta industri barang logam, komputer, elektronik, dan optik (10,35%), yang menunjukkan adanya uneven recovery di dalam sektor manufaktur itu sendiri.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |