Harga Minyak Melambung Setelah Iran Serang Kuwait

1 day ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak menguat pada Jumat, 17 Juli 2026. Lonjakan harga minyak terjadi setelah Kuwait mengatakan, Iran menyerang pembangkit listrik dan pabrik desalinasi air di tengah meningkatnya pertempuran di Teluk Persia.

Mengutip CNBC, Sabtu (18/7/2026), harga minyak Brent menguat sekitar 4,6%, dan ditutup di US$ 88,10 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bertambah 4,5%, dan ditutup di US$ 82,49.

Kementerian Listrik, Air dan Energi Terbarukan Kuwait menuturkan, serangan tersebut merusak fasilitas memicu kebakaran yang mempengaruhi sejumlah besar unit pembangkit listrik. Demikian dilaporkan The Kuwait Times.

Kuwait sangat bergantung pada pabrik desalinasi untuk air minum. Para analis telah lama khawatir Iran akan menyerang infrastruktur yang penting untuk mendukung kehidupan sipil di Timur Tengah.

Iran mengatakan, pihaknya menyerang target AS di Bahrain, Yordania, Kuwait, Oman, Qatar, dan Suriah sebagai balasan atas serangan terbaru oleh Washington, menurut kantor berita pemerintah PressTV.

Sebuah kapal tanker terkena proyektil di lepas pantai Oman yang menyebabkan kerusakan ringan, kata Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris dalam laporan insiden pada hari Jumat. Iran telah berulang kali menyerang kapal tanker selama seminggu terakhir dalam upaya memaksa kapal sipil untuk melintasi Selat Hormuz melalui perairannya.

Komando Pusat AS mengatakan, telah menyelesaikan serangan malam keenam berturut-turut terhadap Iran, menghantam puluhan target militer seperti infrastruktur logistik militer dan kemampuan maritim.

Centcom mengatakan lebih dari 50.000 anggota militer beroperasi di seluruh Timur Tengah. Centcom menambahkan kalau mereka "tetap waspada, mematikan, dan siap."

Pertempuran yang meningkat ini terjadi ketika gencatan senjata yang rapuh yang dicapai bulan lalu telah runtuh, sekali lagi mengganggu aliran energi melalui Selat Hormuz yang sangat penting secara strategis, yang biasanya menangani sekitar 20% lalu lintas minyak dunia.

Rystad’s Head of Geopolitical Analysis, Jorge Leon menuturkan, Rystad Energy masih melihat kesepakatan terbatas antara Washington dan Teheran sebagai hasil yang paling mungkin meskipun kepercayaan pada penilaian ini telah melemah.

Leon menuturkan, Iran dan AS masih memiliki insentif ekonomi yang kuat untuk menghindari kegagalan total dalam pembicaraan, dengan AS berupaya menurunkan harga minyak menjelang pemilihan paruh waktu November dan Iran enggan untuk melepaskan insentif ekonomi.

"Teheran memiliki paket ekonomi substansial yang ditawarkan, termasuk akses ke aset yang dibekukan dan keringanan ekspor, yang tidak ingin mereka tinggalkan secara permanen,” kata León.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |