Harga Emas Dunia Lesu Tersengat Penguatan Dolar AS

22 hours ago 16

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia melemah pada Jumat, 19 Juni 2026 (Sabtu waktu Jakarta). Koreksi harga emas itu membawa pergerakan logam mulia ini berada di jalur penurunan dalam tiga minggu berturut-turut. Tekanan terhadap harga emas didorong dolar Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dan sinyal hawkish dari the Federal Reserve (the Fed).

Mengutip CNBC, Sabtu (20/6/2026), harga emas spot turun 0,6% menjadi US$ 4.184,33 per ons, pada pukul 02.11 GMT. Emas itu turun 0,9% selama sepekan. Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus melemah 15 menjadi US$ 4.202,10.

Harga perak spot turun 1,5% menjadi US$ 64,83 per ons. Platinum susut 1,3% menjadi US$ 1.674,47, dan paladium melemah 0,8% menjadi US$ 1.268,65. Sementara itu, pasar di China dan Hong Kong libur merayakan Festival Perahu Naga.

Di sisi lain, dolar AS berada di level tertinggi dalam satu tahun, membuat emas batangan yang diharga dolar AS menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

“Reli emas yang didorong kesepakatan perdamaian Amerika Serikat (AS)-Iran terbukti berumur pendek. Dolar yang kembali menguat, didukung oleh nada hawkish baru the Fed di bawah Kevin Warsh telah mencuri perhatian,” ujar Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer.

Sembilan dari 19 pembuat kebijakan bank sentral AS kini percaya mereka perlu menaikkan suku bunga kebijakan tahun ini, menurut proyeksi yang diterbitkan pada Rabu. Hal ini setelah the Fed mengumumkan keputusannya untuk mempertahankan suku bunga kebijakan tidak berubah dalam pertemuan kebijakan perdana Kevin Warsh sebagai ketua.

Tekanan inflasi yang berasal dari perang Iran telah mendorong semakin banyak bank sentral untuk menaikkan biaya pinjaman atau memberi sinyal langkah-langkah untuk mengendalikan pertumbuhan harga.

Prospek Harga Emas

Pelaku pasar kini melihat peluang 87% kenaikan suku bunga AS pada Desember, melonjak dari 61% sebelum keputusan Fed, menurut CME FedWatch Tool. Emas cenderung kehilangan daya tariknya ketika suku bunga tinggi, karena tidak menghasilkan bunga.

Goldman Sachs memperkirakan harga emas akan naik menjadi US$ 4.900 per ons pada Desember, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar US$ 5.400. Hal ini karena bank tersebut tidak lagi memperkirakan penurunan suku bunga Fed tahun ini.

Di geopolitik, kapal tanker minyak berlayar melalui Selat Hormuz dan AS mengatakan telah mencabut blokade terhadap Iran pada Kamis.

Harga Emas Tergelincir

Sebelumnya, harga emas dunia melemah tipis pada Kamis, 18 Juni 2026 (Jumat waktu Jakarta). Koreksi harga emas terjadi oleh sinyal kebijakan hawkish dari bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) dan dolar AS yang lebih kuat. Sementara itu, kesepakatan gencatan senjata AS-Iran yang mengurangi kekhawatiran inflasi dan menurunkan pasar minyak memberikan tekanan ke harga.

Mengutip CNBC, Jumat, (19/6/2026), harga emas di pasar spot turun 0,6% menjadi US$ 4.232,01 per ounce. Harga emas spot menyentuh level terendah sejak November 2025. Harga emas berjangka AS anjlok 3,1% menjadi US$ 4.245,90.

"Hal sangat signifikan adalah kecenderungan hawkish dari the Fed kemarin. Itu membuat dolar AS mencapai level tertinggi baru tahun ini, yang membuat emas tetap berada di bawah tekanan,” ujar Vice President and Senior Metal Strategist Zaner Metals, Peter Grant.

The Fed mempertahankan suku bunga pada Rabu pekan ini. Namun, sembilan dari 19 pembuat kebijakan melihat perlu kenaikan suku bunga pada akhir tahun.

Dolar AS menguat setelah pernyataan kebijakan dan saat ini berada pada level tertinggi dalam satu tahun, membuat emas batangan yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

Sentimen Harga Emas

Pasar sekarang memprediksi peluang kenaikan suku bunga AS sebesar 88% pada Desember, menurut CME FedWatch Tool. Hal ini lebih tinggi dari peluang 61% yang terlihat dalam pernyataan kebijakan the Fed.

Emas, aset yang tidak memberikan imbal hasil, biasanya kesulitan dalan lingkungan suku bunga tinggi. Harga emas telah berada di bawah tekanan sejak awal konflik di Timur Tengah, karena kenaikan biaya bahan bakar memicu kekhawatiran inflasi.

AS dan Iran merilis teks perjanjian sementara yang ditandatangani presiden untuk mengakhiri perang pada Rabu pekan ini.Presiden AS Donald Trump mengancam akan melanjutkan serangan jika Iran gagal memenuhi komitmen.

Harga minyak mentah Brent merosot ke level terendah sejak 2 Maret. Sedangkan harga minyak mentah WTI berada di level terendah sejak 4 Maret.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |