Harga Emas Antam Hari Ini Turun Lagi, Cek Rincian 17 Maret 2026!

3 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) atau harga emas Antam masih mengalami tekanan pada perdagangan hari ini Selasa (17/3/2026). Harga emas Antam hari ini turun Rp 4.000 melanjutkan penurunan sebesar Rp 5.000 pada perdagangan Senin kemarin.

Mengutip laman logammulia.com, harga emas Antam hari ini ditetapkan Rp 2.988.000 per gram. Pada perdagangan Senin kemarin, harga emas Antam dibanderol Rp 2.992.000 per gram.

Untuk harga buyback emas Antam hari ini juga turun. Hari ini harga buyback emas Antam suust Rp 4.000. Dengan demikian, harga buyback emas Antam dibanderol Rp 2.740.000.

Untuk diketahui, harga buyback ini adalah jika Anda akan menjual emas, Antam akan membelinya di harga Rp 2.740.000 gram.

Sebagai informasi, harga emas Antam mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Kamis 29 Januari 2026 di harga Rp 3.168.000 per gram. Sedangkan harga buyback emas Antam di angka Rp 2.989.000 per gram.

Informasi mengenai harga emas Antam ini bersumber dari situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk. Dengan demikian, data yang disajikan memiliki akurasi dan kredibilitas yang tinggi bagi publik.

Daftar Harga Emas Antam

Berikut daftar harga emas Antam hari ini Selasa, 17 Maret 2026 di Graha DIpta Pulo Gadung:

  • Harga emas 0,5 gram: Rp 1.544.000
  • Harga emas 1 gram: Rp 2.988.000
  • Harga emas 2 gram: Rp 5.916.000
  • Harga emas 3 gram: Rp 8.849.000
  • Harga emas 5 gram: Rp 14.715.000
  • Harga emas 10 gram: Rp 29.375.000
  • Harga emas 25 gram: Rp 73.312.000
  • Harga emas 50 gram: Rp 146.545.000
  • Harga emas 100 gram: Rp 293.012.000
  • Harga emas 250 gram: Rp 732.265.000
  • Harga emas 500 gram: Rp 1.464.320.000
  • Harga emas 1.000 gram: Rp 2.928.600.000.

Harga Emas Nyaris Sentuh USD 5.000

Harga emas dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Senin setelah sebelumnya mengalami tekanan. Kekhawatiran bahwa inflasi akibat konflik di Timur Tengah dapat membuat suku bunga tetap tinggi lebih lama menahan kenaikan harga logam mulia tersebut.

Mengutip CNBC, Selasa (17/3/2026), harga emas spot tercatat turun 0,4% menjadi USD 4.998,69 per ounce. Sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh level terendah sejak 19 Februari pada sesi perdagangan yang sama.

Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April juga turun 1,1% menjadi USD 5.004,90 per ounce.

Di sisi lain, nilai tukar dolar AS sempat melemah dari posisi tertinggi dalam 10 bulan terakhir. Kondisi tersebut sebenarnya membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih menarik bagi investor yang memegang mata uang lain.

Namun demikian, tekanan dari potensi inflasi yang lebih tinggi dinilai lebih dominan memengaruhi pergerakan harga emas saat ini.

Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi

Senior Market Strategist RJO Futures, Bob Haberkorn, mengatakan kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.

“Dengan harga minyak yang lebih tinggi, inflasi juga akan meningkat. Jika inflasi naik, bank sentral tidak akan seantusias enam bulan lalu untuk menurunkan suku bunga, dan itu menjadi faktor negatif bagi harga emas,” ujar Haberkorn.

Meski begitu, ia tetap optimistis terhadap prospek emas dalam jangka panjang.

“Saya masih sangat bullish terhadap emas, melihat kondisi yang terjadi di seluruh dunia. Masih banyak dana yang menunggu di luar pasar dan siap masuk, dan saya masih memperkirakan harga emas bisa mencapai USD 6.000 per ounce,” kata dia.

Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Namun, ketika suku bunga tinggi, emas biasanya kurang diminati karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen investasi lainnya.

Konflik Timur Tengah Jadi Sorotan Pasar

Ketegangan geopolitik juga menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar. Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini telah memasuki pekan ketiga tanpa tanda-tanda akan segera berakhir.

Konflik tersebut bahkan menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Sepanjang tahun ini, harga minyak global tercatat telah melonjak lebih dari 60%, meski pada perdagangan Senin sempat mengalami penurunan.

Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menunggu sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat minggu ini. Di antaranya data Producer Price Index (PPI), keputusan kebijakan moneter Federal Reserve, pidato Ketua The Fed Jerome Powell, serta laporan mingguan klaim pengangguran.

Bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Selasa dan Rabu. Data ekonomi terbaru juga menunjukkan belum ada perubahan signifikan pada prospek ekonomi.

Di saat yang sama, The Fed sedang memasuki masa transisi kepemimpinan setelah Kevin Warsh dicalonkan oleh Donald Trump untuk menjadi pemimpin baru bank sentral tersebut.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |