BI Rate Naik jadi 5,5% Bakal Efektif Topang Rupiah?

12 hours ago 15

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 bps, dari 5,25 persen menjadi 5,50 persen. Kebijakan yang dihasilkan dari rapat dewan gubernur (RDG) mingguan, Selasa (9/6/2026) ini dipercaya dapat mendorong penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Hanya saja, analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai, kenaikan suku bunga acuan ini belum cukup kuat untuk menggenjot kurs rupiah yang kian melemah. 

Kendati begitu, Lukman menilai, putusan tersebut memang diperlukan dalam situasi mendesak. Dengan kenaikan BI Rate, pihak bank sentral bisa lebih leluasa menyicil kenaikan lanjutan sesuai kebutuhan, tanpa perlu menunggu jadwal tetap seperti biasa dilakukan dalam RDG bulanan.  

"Untuk sementara memang positif bagi rupiah, namun ke depannya masih perlu usaha yang lebih jauh. BI masih perlu menaikkan suku bunga," ujar dia kepada Liputan6.com, Selasa (9/6/2026).

Di sisi lain, Lukman tak memungkiri, lonjakan suku bunga acuan berpotensi mengganggu pasar. Namun, penguatan rupiah dinilai jadi hal paling fundamental agar ekonomi suatu negara tidak terus terperosok. 

"Kenaikan suku bunga berisiko pada ekonomi. Namun sedikit mengorbankan ekonomi lebih baik daripada perlemahan rupiah yang berkelanjutan, yang justru juga tetap akan melemahkan ekonomi. BI bisa berbalik menurunkan suku bunga ketika keadaan membaik," bebernya. 

Kerek Suku Bunga ke 6,25%

Ke depan, ia tidak tutup kemungkinan Bank Indonesia kembali melakukan penyesuaian lanjutan terhadap suku bunga acuan. Khususnya dalam mengikuti gejolak pasar keuangan dan situasi ekonomi, baik nasional maupun global. 

Menurut hitungannya, pihak bank sentral idealnya bisa mengkerek BI Rate hingga 75 bps dari posisi saat ini, atau menjadi 6,25 persen. 

"(Kenaikan lanjutan BI Rate) masih diperlukan, tergantung perkembangan kedepan internal dan eksternal maupun respon investor. Namun saat ini idealnya paling tidak 75 bps kembali, sehingga membawa BI rate kembali ke level tahun lalu," tuturnya. 

Alasan BI Dongkrak Suku Bunga

Selain menaikkan BI Rate menjadi 5,50%, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50% dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25%.

"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah," ujar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam keterangan tertulis.

Perry menuturkan, kebijakan tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik sehingga mampu mendorong masuknya kembali aliran investasi portofolio asing ke Indonesia.

Bank Indonesia mencatat nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir bergerak lebih lemah dibandingkan perkiraan sebelumnya. Selain dipicu ketidakpastian global dan meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari keluarnya dana investor asing dari pasar keuangan Indonesia.

Karena itu, BI memandang perlu memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memastikan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia tetap terjaga.

Untuk diketahui, sebelumnya pada Rapat Dewan Gubernur yang berlangsung pada 20 Mei 2026, BI juga memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.

BI Naikkan Imbal Hasil SRBI dan Beri Insentif Investor Asing

Selain menaikkan suku bunga acuan, Bank Indonesia juga meluncurkan sejumlah kebijakan tambahan untuk menarik kembali aliran modal asing ke pasar domestik.

Salah satunya dengan meningkatkan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk seluruh tenor 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan.

Menurut Perry, langkah tersebut dilakukan agar instrumen investasi di Indonesia tetap kompetitif dibandingkan negara lain.

Bank Indonesia juga memberikan insentif berupa penurunan biaya swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing sebesar 10%.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya tarik investasi sekaligus mengurangi beban biaya yang selama ini ditanggung investor asing saat berinvestasi di pasar keuangan Indonesia.

Di sisi lain, BI kembali membuka fasilitas lelang repurchase agreement (repo) untuk tenor 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan bagi perbankan.

Langkah itu ditujukan untuk menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan agar pertumbuhan uang primer (M0) tetap berada pada level dua digit atau di atas 10%.

Perkuat Intervensi Rupiah dan Koordinasi dengan Pemerintah

Bank Indonesia juga meningkatkan intensitas operasi moneter baik dalam rupiah maupun valuta asing untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar.

Dalam operasi moneter rupiah, BI akan menggelar lelang SRBI dua kali dalam sepekan. Sementara di pasar valuta asing, intervensi akan diperkuat melalui transaksi spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta Non Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri.

Perry menegaskan, stabilisasi rupiah tidak hanya dilakukan melalui kebijakan moneter, tetapi juga melalui koordinasi erat dengan pemerintah.

Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan sebelumnya telah menyepakati penguatan koordinasi fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas makroekonomi di tengah tingginya ketidakpastian global.

Menurut Perry, koordinasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan daya tarik investasi pada SRBI maupun Surat Berharga Negara (SBN), sekaligus menjaga kecukupan likuiditas melalui pengelolaan kas pemerintah yang tetap ditempatkan di Bank Indonesia.

"Koordinasi fiskal-moneter yang sudah kuat selama ini terus akan diperkuat dari waktu ke waktu dan dilakukan secara berkesinambungan untuk saling mendukung dan seirama dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi, dengan keyakinan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga kuat dan berdaya tahan dalam menghadapi gejolak global," kata Perry Warjiyo.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |