AI Picu Kekhawatiran Karyawan, Ini Strategi Jitu Para Ahli

1 hour ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan semakin familiar di kehidupan sebagian besar orang, kekhawatiran tempat kerja mengenainya tetap tinggi. Saat pemimpin bisnis mengintegrasikan teknologi tanpa komunikasi yang jelas, mereka berpotensi menjauhkan tenaga kerjanya, dengan cara yang sulit dipulihkan.

Melansir CNBC, Rabu, (26/8/2026), sebagian besar pemimpin perusahaan yang melakukan PHK demi AI mulai menarik kembali keputusan mereka pada tahun lalu. Namun, sebesar 53% dari warga Amerika Serikat di berbagai lapisan masyarakat kerap khawatir AI akan mengambil pekerjaan anggota keluarga.

Reaksi balik tentang AI meraih jangkauan lebih luas di seluruh negara tersebut, yang dapat dilihat di pemilu tengah periode, dan bahkan pengajuan Initial Public Offering (IPO) yang sangat dinantikan.

Di dalam berbagai perusahaan, banyak yang masih keliru dalam membangun rasa percaya dengan karyawan dalam penerapan AI, menurut mitra pengelola di Gartner, Jackie Swanson. 

"Setiap organisasi memiliki rencana penerapan AI. Hampir tidak ada di antaranya yang memiliki rencana jujur tentang dampak AI terhadap karyawan mereka, ritme mereka, dan jajaran calon pemimpin masa depan mereka,” ujarnya di sebuah blog miliknya, Shelf Life.

“Perusahaan yang menyadarinya akan membangun keunggulan budaya yang terus berkembang bahkan setelah alat-alat tersebut menjadi komoditas,” ia menambahkan.

Strategi komunikasi AI yang ideal tergantung pada perusahaannya, tetapi kepercayaan tetap menjadi landasan utamanya, mau itu dari startup berbasis AI ataupun perusahaan lama yang mengalami pergeseran budaya lainnya.

Sementara itu, perusahaan perangkat lunak kontrak Ironclad, yang didirikan pada tahun 2014, memandang AI bukan hanya sebagai upaya efisiensi untuk memangkas biaya, melainkan sebagai pendorong kecepatan bisnis.

“Dalam strategi efisiensi, yang paling ampuh adalah memangkas tuntas, sedangkan strategi mendorong kecepatan bisa terus menghasilkan,” ujar Kepala Teknologi (CTO) Ironclad (sebelumnya bekerja di Character.AI dan Google), Sunita Verma.

“Pesan yang kami dapatkan adalah tentang meningkatkan kemampuan, mengasah kemampuan tim. Kami meminta orang-orang untuk mengikuti pelatihan. Saya mengajar. (Kami) menyarankan banyak pembelajaran sebaya,” dia menambahkan.

Strategi Grammarly dalam Komunikasi Penerapan Teknologi

Dia juga berpendapat yang paling penting adalah transparan akan janji-janji dan kekurangan dari alat AI. Jika disampaikan oleh seorang ahli teknologi yang sangat berpengalaman, komunikasi yang jujur dan didasarkan pada pengalaman seperti ini memiliki nilai tersendiri.

Pada 2025, Grammarly mengubah namanya menjadi Superhuman setelah perusahaan tersebut mengakuisisi aplikasi email AI dengan nama yang sama.

Meskipun produk mereka sudah didirikan sejak 2009, rebranding-nya yang terpadu, bersamaan dengan akuisisi alat produktivitas Coda, kini Superhuman Docs, telah mengubah perusahaan ini menjadi salah satu yang berfokus pada AI. Meskipun begitu, perubahan alur pekerjaan di balik layarnya membutuhkan strategi komunikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pribadi.

"Kami tidak memulai dengan kebijakan AI yang diberlakukan dari atas ke bawah,” kata Kepala Sumber Daya Manusia di Superhuman yang bergabung dengan perusahaan tersebut sebagai bagian dari akuisisi Coda, Kenny Mendes. 

“Sebagian besar kesuksesan berasal dari dalam tim itu sendiri, yaitu orang-orang yang benar-benar dekat dengan area-area yang bermasalah, yang diberi kewenangan untuk memilih dan menggunakan alat baru,” ia menambahkan.

Eksperimen dengan Cara Kerja Baru

Dengan memberi lampu hijau kepada karyawan untuk mengakses dan bereksperimen dengan cara kerja baru, kata dia, mereka dapat mengidentifikasi dan mengatasi kendala alur kerja mereka sendiri.

"Karena tanggung jawab sebenarnya ada di tangan masing-masing tim. Mereka yang menentukan arah pengembangan, bukan sekadar merasa bahwa kami melakukan ini demi penghematan biaya,” tambah Mendes. Hanya dengan mengubah dinamika kekuasaan, perusahaan dapat menghindari membuat para karyawan merasa cemas, dan justru memberdayakan mereka untuk melakukan pekerjaan yang lebih baik, bahkan mungkin lebih menyenangkan.

Cara Jitu Torani Pertahankan Nol PHK selama 103 Tahun

Produsen sirup perisa yang berbasis di California, Torani, telah mempertahankan rekor nol PHK selama 103 tahun. CEO Torani sejak 1991, Melanie Dulbecco, mengatakan hal ini menimbulkan kepercayaan dalam tenaga kerja perusahaan yang diisi oleh lebih dari 500 orang, bahkan saat mereka menerapkan teknologi baru di kantor dan di pabrik.

Namun, tim Torani tetap mengambil langkah terukur dan terencana dalam perubahan alur kerja apapun, ujarnya. Dia menambahkan bahwa melakukan pengujian secara bertahap dan memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk terlibat dalam proses penyempurnaan dapat meningkatkan kepercayaan di semua pihak.

Meskipun efisiensi dan percepatan merupakan tujuan bisnis Torani, tidak ada di antaranya yang menjadi pembahasan mereka saat mengomunikasikan perubahan berbasis teknologi.

"Percepatan tidak terdengar begitu berarti untuk seorang individu, namun bagaimana caranya membuat pekerjaan lebih baik, lebih menarik, dan lebih sedikit pekerjaan manualnya?," ujar Dulbecco.

Torani berencana untuk memperluas tenaga kerjanya sebanyak sekitar 30% hingga Maret 2027, sebuah strategi yang didorong oleh ekspansi manufaktur sebesar US$ 60 juta, atau Rp 1,06 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.716).

Menata Setiap Keputusan

Demi mencapai transisi ini, Dulbecco sangat bergantung dengan pemimpin bisnis teknologi yang menata setiap keputusan dalam budaya perusahaan. Bagian dari budaya tersebut adalah komitmen bahwa mereka tidak akan menghapus pekerjaan melalui teknologi.

Sebanyak 53% pekerja khawatir alat AI akan membuat posisi mereka terkesan tidak penting, menurut survey 2026 dari Software Finder. Sehingga, mengomunikasikan perubahan alur kerja menjadi sama strategis dengan implementasi teknologinya sendiri. Yang lebih mendasar lagi adalah keyakinan mendasar pada para pemimpin yang menyampaikan pesan tersebut.

"Orang-orang (harus) percaya bahwa apa yang mereka dengar memiliki konteks yang mereka yakini," ujar Dulbecco.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |