Amerika Serikat Ancam Pembeli Minyak Iran, China Jadi Sorotan

7 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Scott Bessent pada Senin, 24 Agustus 2026 menjanjikan D-Day ekonomi bagi negara-negara yang membeli minyak dari Iran. Para ahli menuturkan, hal itu merujuk pada satu negara terutama, China.

Bessent tidak menyebutkan nama China pada Senin, 24 Agustus 2026. Akan tetapi, pesannya jelas, demikian mengutip CNN, Selasa (25/8/2026).

"Kami berpendapat cara terbaik untuk berinteraksi dengan negara-negara lain adalah melalui diplomasi diam-diam, dan kami menyamakan persepsi dengan setiap negara untuk menyampaikan harapan kami,” ujar Bessent.

"Kami tahu siapa mereka. Mereka tahu siapa diri mereka,” ia menambahkan.

Namun, meskipun ancaman Bessent mungkin menempatkan China sebagai sorotan utama, dampaknya bisa meluas ke seluruh dunia, bahkan bagi konsumen Amerika Serikat, yang mungkin mendapati biaya energi mereka meningkat.

Teheran diperkirakan telah mengirimkan minyak senilai antara US$ 3,9 miliar atau Rp 69,10 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.720)  hingga US$ 4,2 miliar atau Rp 74,42 triliun pada September 2025, menurut sebuah analisis; China sebagai konsumen energi terbesar di dunia, membeli sebagian besar dari jumlah tersebut.

"Pembelian oleh China mencakup sekitar 90 persen dari ekspor minyak Iran, yang menghasilkan pendapatan tahunan puluhan miliar dolar untuk mendukung anggaran pemerintah dan kegiatan militer Iran," demikian pernyataan Komisi Peninjauan Ekonomi dan Keamanan AS-China awal tahun ini.

Bessent menuturkan, pengumuman Senin itu merupakan "tembakan peringatan. Meskipun sejumlah entitas dan individu dijatuhi sanksi, ia tidak mengumumkan langkah-langkah luas yang ditujukan kepada negara tertentu.

Pada Senin, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengatakan, sanksi dan taktik tekanan tidak membantu penyelesaian masalah. “Hal-hal tersebut hanya akan memicu eskalasi yang tidak menguntungkan siapa pun,” ujar dia.

Sebanyak 38% minyak dan 23% gas alam cair (LNG) China melewati Selat Hormuz, yang menjadi titik fokus konflik terkait Iran, menurut laporan Nomura pada April.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |