Asosiasi Maskapai Ungkap Deretan Dampak Perang AS-Iran ke Industri Penerbangan

5 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi perusahaan maskapai penerbangan nasional atau INACA (Indonesia National Air Carriers Association) mengungkapkan, sejumlah dampak yang diraskan industri penerbangan dengan adanya konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS)-Israel versus Iran.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) INACA Bayu Sutanto, mengatakan dengan mempertimbangkan kondisi industri penerbangan saat ini yaitu pengaruh dari konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS)-Israel Vs Iran yang membuat kondisi ekonomi internasional menjadi tidak kondusif.

"Kondisi tersebut mengakibatkan kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar, di mana kedua komponen biaya tersebut sangat mempengaruhi kenaikan biaya operasional maskapai penerbangan nasional," kata Bayu kepada Liputan6.com, Sabtu (28/3/2026).

Bahkan, kata Bayu, saat ini di banyak maskapai di berbagai negara yang melakukan penyesuaian biaya operasional dengan menambahkan fuel surcharge antara 5%-70%. Hal tersebut dapat terlihat dari maskapai Air India, Air India Express, IndiGo dan Akasa Air dari India. South African Airlines, FlySafair dari Afrika Selatan.

Cathay Pacific dan Hong Kong Airlines dari Hong Kong. Thai Airways dari Tailan. Qantas dari Australia. Korean Air dan Asiana dari Korea Selatan. Air Mauritius, Ethiopian Airlines, Kenya Airlines dan maskapai-maskapai lainnya.

Bayu menyampaikan, sejumlah dampak dari konflik tersebut terhadap industri penerbangan nasional, diantaranya dengan adanya peningkatan nilai tukar (kurs) mata uang US Dollar terhadap Rupiah, di mana tahun 2019 saat ditetapkannya Tarif Batas Atas (TBA) melalui KM 106 Tahun 2019, rata-rata 1 USD adalah Rp 14.136,- sedangkan pada tahun 2026 (Maret) rata-rata sudah mencapai Rp 17.000,- atau naik lebih dari 20%.

"Biaya operasional maskapai penerbangan 70% menggunakan Dollar AS, sedangkan pendapatan maskapai nasional adalah dari Rupiah, sehingga dengan naiknya nilai tukar Dollar AS akan semakin membebani keuangan maskapai penerbangan nasional," ujarnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |