Laporan Oxfam: Gaji CEO Naik 20 Kali Lebih Cepat Dibanding Pekerja

10 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Laporan terbaru dari Oxfam dan International Trade Union Confederation mengungkap kesenjangan pendapatan di Amerika Serikat semakin melebar pada 2025. Dalam laporan yang dirilis Kamis waktu setempat, disebutkan bahwa kenaikan gaji CEO jauh melampaui pertumbuhan upah pekerja.

Dikutip dari CNBC, Minggu (3/5/2026), Berdasarkan analisis data dari S&P Capital IQ, Federal Reserve, dan Bureau of Labor Statistics, gaji CEO di AS meningkat sekitar 20 kali lebih cepat dibandingkan upah pekerja dalam satu tahun terakhir.

Jika disesuaikan dengan inflasi, rata-rata upah per jam pekerja sektor swasta hanya naik 1,3% dari 2024 ke 2025. Sebaliknya, pendapatan 384 CEO perusahaan dalam indeks S&P 500 melonjak hingga 25,6% dalam periode yang sama.

Ketimpangan ini juga tercermin dari rasio pendapatan. CEO kini menerima bayaran rata-rata 281 kali lebih besar dibandingkan pekerja biasa.

Pada 2024, rata-rata total pendapatan CEO mencapai USD 22,98 juta—melonjak drastis dibandingkan sekitar tiga dekade lalu yang hanya 60 kali lipat dari pekerja.

Menurut Patricia Stottlemyer dari Oxfam Amerika, kondisi ini menunjukkan bahwa krisis keterjangkauan tidak bisa dilepaskan dari ketimpangan ekstrem.

“Data ini menunjukkan kita tidak bisa membahas krisis keterjangkauan tanpa membicarakan ketimpangan ekstrem, terutama antara gaji CEO dan pekerja,” ujarnya.

Inflasi Tekan Daya Beli, Warga AS Kian Terhimpit

Kondisi ekonomi yang tidak seimbang ini semakin terasa di kalangan masyarakat. Survei dari J.D. Power pada Februari menunjukkan 65% konsumen di AS merasa kenaikan harga lebih cepat dibanding pendapatan mereka.

Inflasi sendiri mengalami peningkatan, dari 2,4% pada Februari menjadi 3,3% pada Maret, menurut data dari Bureau of Labor Statistics. Secara kumulatif, harga telah naik sekitar 16% dalam empat tahun terakhir berdasarkan indeks harga konsumen.

Dampaknya, banyak warga Amerika mulai mengubah pola hidup. Survei CNBC dan SurveyMonkey pada April mencatat:

  • 56% responden merasa hidup semakin tidak terjangkau
  • 59% hidup dari gaji ke gaji (paycheck-to-paycheck)

Untuk bertahan, masyarakat melakukan berbagai penyesuaian, seperti:

  • Mengurangi pengeluaran tidak penting (49%)
  • Menggunakan tabungan (40%)
  • Menunda pembelian besar (37%)

Selain itu, sebagian warga mencoba meningkatkan penghasilan dengan:

  • Mengambil pekerjaan tambahan atau sampingan (30%)
  • Mencari pekerjaan dengan gaji lebih tinggi (29%)
  • Meminta kenaikan gaji (14%).

Solusi Kebijakan dan Wacana Kenaikan Upah Minimum

Meski telah menghemat, kelompok berpenghasilan rendah masih kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Menurut Will Auchincloss dari EY-Parthenon, banyak pekerja tetap “kesulitan untuk mencukupi kebutuhan” dalam kondisi ekonomi saat ini.

Laporan Oxfam juga mencatat bahwa daya beli upah minimum federal telah turun hampir 21% sejak 2019.

Stottlemyer menilai sistem ekonomi saat ini cenderung menguntungkan segelintir orang kaya.

“Sistem ini dirancang untuk menguntungkan kelompok ultra-kaya dengan mengorbankan pekerja,” ujarnya.

Sebagai solusi, ia mendorong kebijakan ketenagakerjaan yang lebih kuat, termasuk kenaikan upah minimum dan pajak bagi kelompok kaya.

Pada Selasa, sejumlah anggota Kongres dari Partai Demokrat mengajukan RUU “Living Wage for All Act”. Rancangan ini mengharuskan perusahaan besar—dengan lebih dari 500 karyawan atau pendapatan tahunan minimal USD 1 miliar—untuk menaikkan upah minimum menjadi USD 25 per jam pada 2031.

Sementara itu, perusahaan kecil diberi waktu hingga 2038 untuk mencapai standar yang sama.

Menurut Stottlemyer, sumber daya sebenarnya tersedia untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja.

“Semuanya tergantung pada pilihan kebijakan, bagaimana kekayaan yang dihasilkan pekerja didistribusikan,” katanya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |