Kehidupan Baru di Balik Tambang yang Gersang

1 hour ago 5

Liputan6.com, Halmahera Selatan - Desa Kawasi tak lagi hanya berbicara tentang tambang yang gersang. Di sebuah kawasan seluas 103 hektare (ha), kehidupan baru tumbuh: rumah-rumah permanen, air bersih, sekolah, hingga fasilitas kesehatan.

Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, selama ini identik dengan kekayaan alamnya. Nikel menjadi salah satu sumber daya yang membuat wilayah ini masuk dalam peta industri nasional.

Namun, di balik aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel, ada cerita lain yang berlangsung di Desa Kawasi. Ini bukan tentang seberapa banyak bijih nikel yang ditambang atau seberapa besar kapasitas fasilitas pengolahannya. Ini adalah tentang rumah.

Tentang tempat di mana warga menjalani kehidupan sehari-hari. Tentang bagaimana sebuah permukiman dibangun untuk menghadirkan standar hidup yang berbeda bagi masyarakat Desa Kawasi.

Di kawasan baru itulah 259 unit rumah permanen kini berdiri. Permukiman tersebut dibangun di atas lahan seluas 103 ha dan menjadi bagian dari inisiatif pemerintah daerah yang mendapat dukungan Harita Nickel.

Empat tipe rumah tersedia, mulai dari tipe 36, 54, 72 hingga 108 meter persegi. Luas lahan bervariasi antara 360 hingga 442 meter persegi.

Bukan sekadar rumah, kawasan ini dirancang sebagai sebuah lingkungan tempat tinggal yang memiliki fasilitas dasar dan penunjang kehidupan masyarakat.

Listrik dan air tersedia selama 24 jam. Jalan beton membentang di kawasan permukiman, dilengkapi drainase, sanitasi, serta sistem pengelolaan sampah.

Di dalam kawasan tersebut juga tersedia fasilitas kesehatan, sekolah, rumah ibadah, gedung serba guna, pusat olahraga hingga area komersial.

Dari Rumah ke Ruang Kehidupan

Salah satu perubahan yang paling terasa adalah tersedianya fasilitas kesehatan yang lebih dekat. Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan bersama Harita Nickel membangun Puskesmas Pembantu atau Pustu Kawasi.

Fasilitas yang dibangun pada 2020 tersebut mulai resmi beroperasi pada 2024. Kehadirannya ditujukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang lebih mudah dijangkau dan memadai.

Layanan yang tersedia cukup beragam. Mulai dari pelayanan umum dan konsultasi dokter, penanganan balita sakit, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, tindakan medis darurat hingga pelayanan farmasi.

Bagi ibu hamil, Pustu Kawasi juga menyediakan fasilitas ultrasonografi atau USG untuk memantau perkembangan janin.

Dengan adanya fasilitas tersebut, layanan kesehatan kini menjadi bagian dari ekosistem permukiman, bukan sesuatu yang harus dipandang sebagai fasilitas yang jauh dari rumah.

“Fasilitasnya sudah hampir setara sama di Puskesmas. Di sini sudah ada dokter. Kalau untuk pemeriksaan darah memang masih sebatas gula, asam urat, tapi sudah ada pemeriksaan USG,” ujar Dokter Jaga Pustu Kawasi, dr Fitri Istikasari, kepada Liputan6.com, Senin 31 Agustus 2026.

Anak-anak sekolah di Desa Kawasi Baru di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. (Dok. Harita Nickel)

Hal serupa terlihat pada sektor pendidikan. Di kawasan permukiman baru telah tersedia fasilitas sekolah mulai tingkat SD, SMP hingga SMA.

Artinya, kawasan baru Desa Kawasi tidak hanya dirancang untuk menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi keluarga dan generasi berikutnya.

Air Bersih dari Sungai Akelamo

Kehidupan sehari-hari tentu tak bisa dilepaskan dari satu kebutuhan paling mendasar: air.

Di Permukiman Baru Desa Kawasi, air baku berasal dari Sungai Akelamo. Air tersebut kemudian diolah melalui Water Purification Plant atau WPP sebelum didistribusikan ke rumah-rumah warga.

Prosesnya berlangsung bertahap. Air baku terlebih dahulu melalui fasilitas water intake untuk menghilangkan partikel halus.

Setelah itu, air menjalani proses pengolahan di WPP, termasuk proses pengendapan partikel dan desinfeksi sebelum masuk ke jaringan distribusi.

Dari fasilitas tersebut, WPP memasok sekitar 42.000 meter kubik air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga Permukiman Baru Desa Kawasi.

Kualitas air juga dipantau secara berkala, mulai dari sumber air, selama proses pengolahan hingga titik distribusi. Pengujian dilakukan oleh tim internal dan diverifikasi oleh laboratorium eksternal yang telah terakreditasi.

Air bersih yang mengalir ke permukiman menjadi salah satu gambaran sederhana tentang bagaimana pembangunan sebuah kawasan tidak berhenti pada penyediaan bangunan rumah.

Ada sistem yang harus bekerja di belakangnya. Ada sumber air yang harus dikelola. Ada proses pengolahan. Dan ada jaringan distribusi yang memastikan kebutuhan sehari-hari masyarakat dapat terpenuhi.

Permukiman baru juga dirancang agar masyarakat memiliki ruang untuk mengembangkan aktivitas ekonomi. Tak jauh dari kawasan tersebut terdapat Salam Kawasi, singkatan dari Bersama Belajar Pada Alam Kawasi, yang menjadi pusat pembelajaran pertanian terpadu.

Di lokasi ini terdapat area demonstration plot yang digunakan untuk membudidayakan berbagai jenis tanaman, mulai dari sawi, cabai rawit, terong dan kangkung hingga buah-buahan seperti pepaya California, nanas dan Golden Melon.

Ada pula kolam ikan air tawar, rumah kompos dan area peternakan kambing. Konsepnya bukan sekadar menanam untuk konsumsi. Kelompok tani yang mendapat pendampingan dari Tim Salam Kawasi juga menghasilkan produk pertanian yang di antaranya digunakan untuk mendukung kebutuhan makanan karyawan di area operasional Obi.

Di sisi lain, kawasan perekonomian Desa Kawasi terbagi menjadi 13 blok dengan 210 kos. Kawasan tersebut menjadi bagian dari ekosistem ekonomi di sekitar permukiman. Ada pula Pelabuhan Komersial Panji Baru yang menjadi bagian dari konektivitas kawasan.

Dengan berbagai fasilitas tersebut, permukiman baru diarahkan bukan hanya sebagai tempat masyarakat menetap, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun aktivitas ekonomi.

Rumah dari Material Hasil Tambang

Ada hal menarik di balik rumah-rumah baru Desa Kawasi. Material yang digunakan untuk membangun sebagian rumah tersebut berasal dari hasil samping aktivitas pengolahan nikel.

Sebanyak 259 unit rumah permanen dibangun menggunakan blok slag nikel daur ulang. Material tersebut disebut memiliki ketahanan terhadap air dan guncangan.

Slag sendiri merupakan residu padat dari proses pengolahan nikel dengan metode pirometalurgi. Di kawasan operasional Harita Nickel, material tersebut juga dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan lain, termasuk batako, beton dan jalan internal.

Di area reklamasi, slag digunakan sebagai salah satu material pembenah tanah. Material yang sama juga dimanfaatkan untuk membuat reef cubes, struktur buatan yang ditempatkan di laut sebagai rumah bagi ikan dan biota laut sekaligus mendukung pertumbuhan terumbu karang.

Dari sini muncul sebuah gambaran tentang bagaimana sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai sisa produksi dapat memiliki fungsi baru.

Sebagian menjadi material konstruksi. Sebagian menjadi bagian dari proses reklamasi. Sebagian lainnya kembali ke laut sebagai rumah bagi biota. Dan di Desa Kawasi, sebagian material tersebut menjadi bagian dari rumah tempat manusia membangun kehidupan baru.

Dalam proses pembangunannya, pendekatan partisipatif juga disebut diterapkan dengan mengacu pada standar IRMA dan IFC, melalui komunikasi terbuka, survei serta mekanisme pengaduan.

Di tengah lanskap Pulau Obi yang lekat dengan aktivitas pertambangan, Desa Kawasi sedang membuka babak berbeda. Tentang kehidupan yang mencoba tumbuh di balik kawasan tambang.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |