Harga Emas Antam 22 September 2026 Turun Tipis, Cek Rincian Lengkapnya!

10 hours ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas batangan yang dijual PT Aneka Tambang Tbk (Antam) turun tipis pada perdagangan selasa (22/9/2026). Harga emas Antam hari ini turun Rp 1.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Mengutip laman logammulia.com, harga emas hari ini dibanderol Rp 2.627.000 per gram, melemah dari posisi sebelumnya di posisi Rp 2.628.000 per gram.

Koreksi juga dialami harga buyback (beli kembali) emas Antam. Harga buyback emas Antam hari ini turun Rp 1.000 menjadi Rp 2.462.000 per gram.

Sebagai informasi, harga buyback merupakan nominal yang diterima pemilik emas ketika menjual kembali emas batangannya ke Antam. Sementara itu, harga yang tercantum pada awal perdagangan merupakan harga jual emas Antam kepada konsumen.

Sebagai catatan, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah (all-time high) pada Kamis (29/1/2026) di level Rp 3.168.000 per gram, dengan harga buyback mencapai Rp 2.989.000 per gram.

Harga emas Antam bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan harga emas dunia serta kondisi pasar.

Rincian Harga Emas Antam Selasa (22/9/2026):

  • 0,5 gram: Rp 1.363.500
  • 1 gram: Rp 2.627.000
  • 2 gram: Rp 5.194.000
  • 3 gram: Rp 7.766.000
  • 5 gram: Rp 12.910.000
  • 10 gram: Rp 25.765.000
  • 25 gram: Rp 64.287.000
  • 50 gram: Rp 128.495.000
  • 100 gram: Rp 256.912.000
  • 250 gram: Rp 642.015.000
  • 500 gram: Rp 1.283.820.000
  • 1.000 gram: Rp 2.567.600.000

Mengingat harga emas yang dinamis, investor dan masyarakat yang hendak bertransaksi disarankan untuk selalu memeriksa pembaruan harga terbaru secara berkala.

Harga Emas Dunia Tertekan

Harga emas dunia melemah setelah penutupan perdagangan Amerika Serikat (AS) pada Senin. Harga emas tertekan setelah penguatan tajam pasar saham, penurunan harga minyak dan sedikit turunnya imbal hasil obligasi AS mengurangi minat investor terhadap aset safe haven.

Mengutip Kitco, Selasa (22/9/2026), harga emas spot berada di sekitar US$ 4.337,20 per ounce atau turun 0,95%. Sementara harga perak spot berada di sekitar US$ 66,08 per ounce, melemah 0,44%.

Pasar saham Amerika ditutup menguat. Indeks S&P 500 naik 1,5% menjadi 7.764,70, Nasdaq Composite melonjak 2,3% ke 27.122,09, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,7% menjadi 52.048,83.

Penguatan saham membuat permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven berkurang. Kondisi tersebut terjadi ketika ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) masih relatif ketat.

The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 16 September dan membawa kisaran target suku bunga menjadi 3,75%-4%. Proyeksi median The Fed masih menunjukkan suku bunga berada di sekitar 4,1% pada akhir tahun.

Suku Bunga The Fed Tekan Harga Emas

Sejumlah data ekonomi AS turut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga yang ketat. Penjualan ritel Agustus meningkat 1,2%, sementara klaim pengangguran awal turun menjadi 196.000.

Pelaku pasar bahkan memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember mencapai 88%. Kondisi ini menjadi tekanan bagi harga emas karena emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun memang turun ke kisaran 4,95%-4,96%. Namun, level tersebut masih mendekati batas psikologis 5%.

Di sisi lain, harga minyak mentah turun untuk sesi keempat berturut-turut. Harga minyak Brent ditutup di US$ 100,34 per barel, turun 3,4%, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di US$ 95,78 per barel atau turun 4,5%.

Penurunan harga minyak turut mengurangi premi risiko geopolitik di pasar komoditas. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi harga emas dalam jangka pendek.

Analis pasar XS.com Rania Gule mengatakan, “faktor-faktor fundamental yang saling bertentangan sedang membentuk pasar.”

Menurutnya, kenaikan imbal hasil obligasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed membatasi momentum harga emas. Namun, risiko geopolitik, permintaan bank sentral, serta kekhawatiran fiskal masih menjadi faktor pendukung untuk pembelian emas dalam jangka panjang.

Level Harga Emas yang Perlu Dicermati

Pasar obligasi AS masih menjadi salah satu risiko struktural bagi harga emas. Imbal hasil Treasury 10 tahun yang mendekati 5% meningkatkan biaya pinjaman dan membuat aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti emas dan perak, menghadapi tekanan.

Utang pemerintah AS yang dimiliki publik mencapai US$ 31,3 triliun pada April. Angka tersebut kurang lebih setara dengan ukuran ekonomi AS. Sementara itu, belanja bunga bersih pada tahun fiskal 2025 telah melampaui belanja pertahanan nasional.

Dari sisi teknikal, pelaku pasar kini mencermati sejumlah level harga emas. Target kenaikan berikutnya berada di area US$ 4.400-US$ 4.407,27 per ounce. Jika berhasil ditembus secara berkelanjutan, harga emas berpotensi mengarah ke US$ 4.443 dan US$ 4.475.

Sebaliknya, level US$ 4.334 menjadi batas penting untuk tekanan jual. Jika ditembus, target berikutnya berada di US$ 4.304 dan US$ 4.261.

Resistance pertama berada di US$ 4.370,78, kemudian US$ 4.407,27. Sementara support pertama berada di US$ 4.341,90 dan US$ 4.334.

Dengan kondisi tersebut, harga emas masih menghadapi tarik-menarik antara tekanan dari suku bunga tinggi dan dukungan dari risiko geopolitik serta permintaan bank sentral.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |