Bos Evergrande Dipenjara, Krisis Properti China Masih Menghantui

11 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Pendiri Evergrande China, Hui Ka Yan, divonis penjara seumur hidup pekan lalu oleh pengadilan China. Namun, keruntuhan sektor properti yang sudah memasuki tahun keenam, masih membebani perekonomian terbesar kedua di dunia. Krisis ini jadi sumber penderitaan bagi jutaan rumah tangga, sekaligus menghambat pertumbuhan ekonomi yang kini makin bergantung pada ekspor, dan memicu gesekan dagang baru bagi China.

Mengutip Strait Times, Senin, (24/8/2026), para analis pun mengaku belum bisa memastikan kapan krisis ini akan berakhir.  Sejumlah pemilik rumah dan kreditor yang geram lewat komentar-komentar yang sempat tak disensor di media sosial mempertanyakan mengapa mantan miliarder yang menjadi simbol pasang surut pasar properti China, Hui Ka Yan, tidak dihukum mati usai dinyatakan bersalah atas berbagai tindak pidana, mulai dari penyalahgunaan dana hingga suap.

Enam tahun setelah regulator keuangan China menindak sektor properti yang sarat utang, penderitaan ini masih berlanjut. Jutaan unit properti yang belum rampung dibangun kini terbengkalai di seluruh China. Pemulihan harga rumah baru di kota-kota besar seperti Beijing dan Shanghai pun mandek, penjualan lahan merosot, dan penjualan properti juga aktivitas konstruksi anjlok makin cepat.

Di kota-kota kecil pedalaman, harga rumah bekas bahkan sudah turun hampir seperempat sejak 2020, yang ikut menekan daya beli masyarakat.

Ekonomi China tumbuh 4,3% pada tiga bulan hingga Juni 2026 dibandingkan periode sama tahun lalu, yang merupakan laju pertumbuhan terendah dalam lebih dari tiga tahun terakhir.

Mesin permintaan domestik yang dulu jadi andalan kini justru melambat, membuat China kian bergantung pada ekspor untuk mendongkrak pertumbuhan.

Surplus dagang China yang melonjak lebih dari dua kali lipat sejak 2019 memperparah ketegangan dagang dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya "China Shock 2.0", karena ekspor China dinilai menggerus industri lokal di negara-negara mitra dagangnya.

Masalah Sistemik, Tak Ada Jalan Pintas

"Masalah ini sistemik, dan tak banyak yang bisa dilakukan untuk mengatasinya,” kata kepala eksekutif perusahaan konsultan properti Enhance International Chicago, Sam Radwan.

"Jumlah rumah lebih banyak daripada jumlah rumah tangga, rumah kedua digunakan sebagai instrumen investasi oleh lebih dari sepertiga penduduk," ia menambahkan.

Evergrande gagal bayar pada 2021 dan memulai proses likuidasi pada 2024. Pesaingnya, Country Garden, gagal bayar pada 2023 dan belum lagi membeli lahan sejak itu, sementara China Vanke sedang berupaya memperpanjang tenggat pembayaran sejumlah obligasi dan telah mengganti sebagian besar jajaran manajemen puncaknya dengan eksekutif perusahaan milik negara.

Presiden China Xi Jinping telah berupaya mengalihkan kredit perbankan dan dukungan negara dari sektor properti ke industri teknologi strategis, seperti robotika dan semikonduktor. Namun, sektor-sektor yang sedang berkembang itu dinilai masih terlalu kecil untuk menutupi dampak negatif dari kemerosotan pasar perumahan yang terus berlanjut, kata para analis, dikutip dari The Straits Times.

"Pertumbuhan dan manfaatnya tersebar jauh lebih sempit di seluruh perekonomian,” kata ekonom senior di Conference Board Asia, Max Zenglein.

"Itulah alasan utama mengapa konsumsi tidak kunjung membaik," ujar dia.

Pengembang Properti Milik Negara Mendominasi

Karena sebagian besar perusahaan properti swasta gagal bayar, pengembang properti milik negara kini mendominasi pasar. Para pelaku pasar memperkirakan sektor properti akan semakin berada di bawah pengawasan negara.

“Pertimbangan utamanya adalah siapa yang berada di baliknya, apakah itu badan usaha milik negara (BUMN) pusat atau daerah,” kata seorang petugas kredit di salah satu bank BUMN besar.

"Dalam praktiknya, bank-bank sudah lama menghentikan pemberian pinjaman kepada pengembang swasta," ia menambahkan.

Harga Rumah Anjlok

Radwan memperkirakan dibutuhkan waktu 18 bulan untuk menghabiskan stok rumah yang menumpuk saat ini. Menurut dia, harga rumah masih harus turun sebesar 40% dari level 2025 agar pasar mencapai titik keseimbangan—proses yang bisa memakan waktu satu dekade lagi.

“Warga China adalah orang-orang yang sangat cerdas,” kata Radwan.

Mereka sangat menyadari mereka masih jauh dari titik terendah, tetapi mereka tidak tahu di mana titik terendah itu.”

Kondisi Buruk Sudah Terlewati?

Analis lain menilai kondisi terburuk mungkin sudah terlewati.

"Kami tidak memperkirakan situasi akan memburuk secara signifikan mulai saat ini,” kata wakil direktur riset di Gavekal Dragonomics, Christopher Beddor.

"Namun, skenario yang paling mungkin adalah koreksi harga yang terus berlanjut secara bertahap, yang nantinya akan membersihkan pasar dan membuka jalan bagi perbaikan," ia menambahkan.

Hukuman penjara yang dijatuhkan kepada Hui menjadi topik berbagai postingan bernada kemarahan di media sosial China. Tagar terkait mengumpulkan lebih dari 370 juta tampilan dan 72.000 diskusi di Weibo (versi X-nya China), pada Kamis (20/8/2026).

"Ini pukulan berat bagi saya,” kata seorang pemilik rumah berusia 38 tahun, Jason Wang.

Nilai rumahnya di provinsi Shandong, salah satu wilayah yang paling parah terdampak krisis perumahan, anjlok 25% sejak ia membelinya pada 2019.

"Ketika orang-orang bahkan hampir tidak mampu memenuhi kebutuhan makan mereka sendiri, siapa yang mampu membeli rumah?”

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |