7 Negara Pemberi Pinjaman Terbesar untuk Indonesia, Berdasarkan Data BI

8 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengeluarkan data terbaru mengenai posisi utang luar negeri Indonesia. Per Mei 2026, utang luar negeri Indonesia mencapai US$ 444,4 miliar atau sekitar Rp 8.000 triliun. Posisi pinjaman luar negeri Indonesia ini secara tahunan tumbuh sebesar 2,1% (yoy) pada Mei 2026. 

Mengutip data statistik yang baru saja dirilis Bank Indonesia, Jumat (17/7/2026), utang luar negeri Indonesia sebesar US$ 444,4 miliar ini terdiri dari utang luar negeri pemerintah bersama Bank Indonesia serta swasta.

Porsi utang luar negeri pemerintah sendiri tercatat mencapai US$ 217,3 miliar dan Bank Indonesia sebesar US$ 31,1 miliar. Total utang keduanya adalah US$ 248,4 miliar. Total utang ini tercatat naik dibanding bulan sebelumnya yang hanya US$ 246,5 miliar.

Sedangkan, porsi utang swasta tercatat sebesar US$ 195,9 miliar. Angka utang ini naik jika dibanding bulan sebelumnya yang hanya US$ 193,7 miliar.

Utang luar negeri swasta ini juga terbagi menjadi utang lembaga keuangan dan lembaga non-keuangan. Utang lembaga keuangan terbagi menjadi utang perbankan sebesar US$ 32,7 miliar dan lembaga keuangan non-bank sebesar US$ 6,3 miliar. Total utang lembaga keuangan tercatat menjadi US$ 39 miliar.

Sedangkan untuk utang bukan lembaga keuangan atau non financial corporation tercatat sebesar US$ 156,60 miliar.

Terlepas dari jumlah tersebut, sumber utang luar negeri berasal dari 3 macam kreditor. Pertama adalah dari berbagai negara dengan total US$ 209,7 miliar. Kemudian dari organisasi internasional sebesar US$ 47,08 miliar serta lainnya sebesar US$ 187,4 miliar.

Daftar Negara Pemberi Pinjaman Terbesar

Mengutip data baru saja dirilis Bank Indonesia, berikut 7 negara pemberi pinjaman terbesar untuk Indonesia:

1. Singapura

Singapura tercatat menjadi negara terbesar pemberi utang ke Indonesia. Total utang yang diberi negara ini ke Indonesia mencapai US$ 52,5 miliar. Angka utang Indonesia ke Singapura ini naik dibanding bulan sebelumnya yang hanya US$ 52,08 miliar.

2. Amerika Serikat

Amerika Serikat merupakan negara kedua terbesar pemberi utang ke Indonesia. Total utang Indonesia ke AS per Mei 2026 tercatat mencapai US$ 27,9 miliar. Posisi utang Indonesia ini tercatat turun dibanding bulan lalu yang mencapai US$ 28 miliar.

3. China

China saat ini menjadi negara ketiga pemberi utang terbesar ke Indonesia. Total utang Indonesia ke China per Mei 2026 tercatat mencapai US$ 25,5 miliar. Angka utang dari China ini turun dibanding bulan sebelumnya yang mencapai  US$ 25,6 miliar.

Negara Selanjutnya

4. Jepang

Jepang menjadi negara keempat pemberi utang terbesar ke Indonesia. Total utang Indonesia ke Jepang tercatat mencapai US$ 21,2 miliar per Mei 2026. Angka utang ini tercatat lebih stabil atau sama dengan bulan sebelumnya atau April 2026.

5. Hong Kong

Hong Kong menjadi negara nomor lima terbesar memberi utang ke Indonesia. Total utang Indonesia ke Hong Kong tercatat mencapai US$ 20,3 miliar. Angka utang Indonesia ke Hong Kong juga tercatat naik dibanding bulan lalu yang hanya US$ 19,4 miliar.

6. Asia Lainnya

Negara Asia juga memberi pinjaman untuk Indonesia. Total utang Indonesia ke negara Asia lainnya tercatat mencapai US$ 12 miliar. Angka ini naik dibanding bulan sebelumnya yang tercatat hanya US$ 11,9 miliar

7. Prancis

Prancis menjadi negara ketujuh memberi utang terbesar untuk Indonesia. Total utang Indonesia ke Prancis tercatat mencapai US$ 9 miliar. Angka utang ini naik dibanding bulan sebelumnya US$ 8,9 miliar.

Rasio Utang

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa kondisi utang luar negeri Indonesia tetap terkendali dan berada dalam batas aman, sekalipun secara nominal mencapai angka Rp 8.000 triliun.

Ia menekankan bahwa penilaian terhadap utang suatu negara tidak boleh hanya berpatokan pada angka nominal semata, melainkan harus disandingkan dengan skala perekonomian domestik.

"Kita selalu bandingkan dengan size ekonominya, jangan nominalnya saja," ujar Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis (16/7/2026).

Purbaya memaparkan bahwa rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan parameter utama yang digunakan secara global untuk mengukur kesehatan fiskal. Saat ini, rasio utang Indonesia bertahan di kisaran 40% dari PDB. Angka ini dinilai sangat aman karena berada jauh di bawah ambang batas aman 60% yang ditetapkan dalam dokumen internasional Maastricht Treaty.

"Jadi, kita kalau pakai di fiskal itu kan di bawah 60%, harusnya di bawah 60%. Kita masih 40% jadi masih jauh," kata Purbaya.

Sebagai perbandingan, Purbaya membeberkan beban utang beberapa negara maju yang rasionya jauh melampaui Indonesia. Amerika Serikat tercatat memiliki rasio utang di atas 100% PDB, diikuti Jerman yang melebihi 60%.

Sementara itu, Singapura menyentuh kisaran 175%, dan Jepang memimpin dengan angka mendekati 275% dari PDB mereka.

Rapor Hijau dari Lembaga Pemeringkat Internasional

Ketahanan ruang fiskal Indonesia juga diperkuat oleh penilaian positif dari lembaga pemeringkat kredit global. Purbaya menunjuk komitmen Standard & Poor's (S&P) yang masih menyematkan rating investasi Indonesia pada level BBB dengan proyeksi (outlook) yang stabil.

Menurutnya, andai saja Indonesia menunjukkan indikasi gagal bayar atau kesulitan finansial, lembaga keuangan internasional dipastikan sudah mengambil tindakan korektif terhadap peringkat Indonesia.

"Kalau kita dianggap nggak mampu pasti udah unstable atau negatif atau mungkin udah downgrade," jelasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |