Trump Kritik The Fed: Suku Bunga Tinggi Bikin AS Rugi

9 hours ago 18

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan kekecewaannya terhadap Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral AS yang tidak memangkas suku bunga pada Rabu (19/8/2026). Ia menegaskan bahwa data ekonomi yang solid seharusnya tidak menghentikan bank sentral AS untuk mengadopsi kebijakan yang lebih longgar.

Sebelumnya, Trump pernah menuduh para pejabat The Fed memiliki motif politik, meskipun tidak menyebut Ketua The Fed Kevin Warsh secara langsung. Warsh sendiri dinominasikan oleh Trump pada awal tahun ini.

Trump mengatakan Warsh melakukan "pekerjaan hebat" di posisi yang mulai dijabatnya sejak Mei, menggantikan Jerome Powell—yang justru rutin dikritik presiden karena dianggap lambat menurunkan suku bunga.

Powell kini tetap berada di dewan sebagai gubernur.

“Masalahnya adalah dia memiliki dewan, dan itu adalah dewan politik,” kata Trump kepada wartawan, dikutip dari CNBC, Jumat (21/8/2026).

“Orang-orang yang ditunjuk oleh Obama, Biden, dan saya, serta beberapa anggota lain, seperti yang Anda pahami, sehingga mereka bersuara untuk menaikkan suku bunga. Saya tidak tahu apakah mereka melakukannya karena mereka pikir itu adalah hal baik atau karena mereka menyukai aspek politiknya.

Belum Cukup untuk Perekonomian AS

Sebenarnya, The Fed belum pernah menaikkan suku bunga acuan selama lebih dari tiga tahun. Pada 2025, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memangkas suku bunga sebanyak tiga kali pada akhir tahun, menyusul tiga kali penurunan pada tahun sebelumnya.

Namun, laju pengurangan tersebut dianggap belum memuaskan bagi Trump. Presiden berpendapat bahwa pemotongan suku bunga diperlukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan mengurangi beban pembiayaan utang negara yang hampir mencapai US$ 40 triliun atau sekitar Rp 710.000 triliun (asumsi kurs dolar Rp 17.750).

“Intinya, 25 tahun lalu, ketika negara mengumumkan data ekonomi yang bagus, suku bunga turun karena kita punya negara yang lebih kuat," kata Trump. "Sekarang, ketika kita mengumumkan data yang bagus, makin bagus datanya, makin buruk dampaknya bagi suku bunga."

Komentar Trump muncul pada hari yang sama ketika FOMC merilis risalah dari pertemuan Juli mereka. Dilansir dari CNBC, ringkasan tersebut menunjukkan bahwa banyak pejabat memperkirakan kenaikan suku bunga akan diperlukan, kecuali inflasi menunjukkan kemajuan yang lebih besar. Sejak pertemuan itu, data inflasi secara umum positif, meskipun tingkat tahunan tetap jauh di atas target 2% The Fed.

Gerah Suku Bunga Negara Lain Lebih Rendah

Ekonomi AS hanya tumbuh pada tingkat tahunan 1,5% pada kuartal kedua, di bawah ekspektasi dan tingkat 2,1% pada tiga bulan pertama tahun ini.

Trump juga mengeluhkan posisi AS dibandingkan dengan beberapa pesaing globalnya. Secara khusus, ia menyebut Swiss yang suku bunga acuannya berada di sekitar nol karena menghadapi masalah yang berlawanan—tingkat inflasi yang sangat rendah dan mata uang safe-haven yang luar biasa kuat.

“Saya melihat negara-negara seperti Swiss yang memiliki suku bunga terendah, hanya setengah persen, sementara kita membayar tiga setengah persen,” katanya. “Saya memiliki hak mutlak untuk menghentikan semua bisnis dengan negara seperti Swiss.”

Di sisi lain, Trump mengatakan ia tidak melihat adanya masalah pada pasar obligasi AS, meski ia menilai suku bunga saat ini tidak adil karena terlalu tinggi.

Sebelumnya, pada Rabu, Departemen Keuangan mengumumkan akan meningkatkan program pembelian kembali obligasi. Langkah ini diambil setelah terjadinya lonjakan utang dengan jangka waktu jatuh tempo lebih panjang, di mana program ini secara khusus akan menargetkan durasi minimal 10 tahun.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |