Harga Emas Dunia Melemah di Tengah Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

9 hours ago 16

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia turun pada perdagangan Senin setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang kuat meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga.

Investor kini menanti rilis data inflasi AS pekan ini untuk mendapat petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Mengutip CNBC, Selasa (8/9/2026), harga emas spot turun 0,5% menjadi US$ 4.405,47 per ounce pada pukul 02.11 GMT. Pada perdagangan Jumat, harga emas telah merosot 1%.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember turun 0,5% menjadi US$ 4.452,20 per ounce.

Data yang dirilis Jumat menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS meningkat tajam pada Agustus. Tingkat pengangguran bertahan di 4,1%. Kondisi tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja mulai membaik setelah mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

Data ketenagakerjaan yang kuat juga membuat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini tetap terbuka.

Pelaku pasar selanjutnya menunggu data Producer Price Index (PPI) AS yang akan dirilis Kamis, disusul Consumer Price Index (CPI) pada Jumat.

Memberikan Kejutan Positif

Analis pasar utama KCM Trade Tim Waterer menilai data pekerjaan AS memberikan kejutan positif bagi pasar dan menekan harga emas. Namun, data tersebut belum cukup untuk memastikan The Fed akan menaikkan suku bunga pada September.

“Data pekerjaan tersebut memberikan kejutan positif yang jelas dan memberikan tekanan terhadap emas, tetapi belum sepenuhnya memastikan kenaikan suku bunga pada September. Bagian penting yang masih ditunggu akan hadir pekan ini melalui data CPI AS,” kata Tim Waterer, kepala analis pasar KCM Trade.

Menurut dia, data inflasi AS akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan The Fed.

“Data inflasi yang kuat akan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, mendorong imbal hasil lebih tinggi dan memberikan tekanan yang lebih besar terhadap harga emas,” tambah dia..

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga dalam pertemuan The Fed pada 15-16 September mencapai 58,4%.

Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga biasanya menjadi tekanan bagi emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga

Geopolitik Timur Tengah

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump pada Jumat mengatakan akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang mengalami defisit perdagangan dengan AS apabila The Fed tidak menurunkan suku bunga.

Perkembangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi perhatian pasar. Iran menyatakan akan meningkatkan upaya untuk mengatasi berbagai persoalan akibat sanksi AS yang telah memberikan tekanan besar terhadap perekonomian negara tersebut.

Seorang pejabat senior Iran juga memperingatkan akan adanya “painful response” atau respons menyakitkan jika negaranya kembali mendapat serangan.

Sementara itu, pelemahan juga terjadi pada sejumlah logam mulia lainnya.

Harga perak spot turun 0,2% menjadi US$ 66,03 per ounce. Harga platinum melemah 0,8% menjadi US$ 1.805,53 per ounce, sedangkan palladium turun 0,7% menjadi US$ 1.396,08 per ounce.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |