Dari Ruang Kuliah ke Meja Kerja: Cerita Fresh Graduate Hadapi Dunia Profesional

6 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Fase transisi dari dunia kuliah ke dunia kerja tentunya menjadi momen yang campur aduk bagi fresh graduate. Bangga ketika diterima di tempat kerja yang diinginkan, tetapi juga gugup akan suasana meja kerja yang nantinya dihadapi. Bagi fresh graduate, culture shock atau kaget dengan realita dunia kerja sudah menjadi hal biasa.

Tiga fresh graduate dari Universitas Padjadjaran pada 2026 turut membagikan pengalaman pertama memasuki dunia kerja. Nazla (22) bekerja di Divisi Penata Layanan Operasional Kementerian Kebudayaan, sementara Haidar (23) menjadi Creative Designer di Human Capital Strategy and Policy PT Bank Syariah Indonesia Tbk.

Keduanya diterima lewat program maganghub, sementara Nathan (22) memulai karier sebagai Tutor Privat Bahasa Perancis.

Momen mengharukan dialami oleh Nazla yang diterima kerja lewat maganghub tiga hari setelah wisudanya dilaksanakan. Ia merasa bahagia karena pengumumannya bertepatan dengan ulang tahun sang mama, yang mana menjadi kado terindah untuk beliau dapat melihat anaknya langsung bekerja tepat tiga hari setelah lulus.

Nathan, ketika mendapatkan offering letter, merasa tidak percaya sudah di titik itu. Nathan mengungkapkan rasa bangganya. "Enggak percaya sudah berhasil untuk melewati semua seluk beluk perkuliahan. Di tambah dengan kondisi job market di Indonesia saat ini, jadi bikin mikir its such a blessing untuk bisa menghasilkan uang sendiri," ujar dia Nathan, dikutip Minggu, (20/9/2026).

Kekhawatiran Jelang Hari Pertama Kerja

Haidar juga merasa diterima di pekerjaannya sekarang terasa seperti mimpi yang menjadi nyata.

"Soalnya dulu cuma bisa membayangkan kehidupan kerja kaya bagaimana, sampai akhirnya kejadian beneran sekarang,” ungkapnya sambil menambahkan kegembiraannya karena akhirnya menghadapi secara langsung realita kehidupan sebenarnya dari yang dirasakan orang dewasa.

Di balik euforia dan rasa syukur itu, ternyata muncul juga kekhawatiran menjelang hari pertama bekerja. Nazla, misalnya, sempat takut untuk bersosialisasi dengan rekan kerja dan senior. Namun ketakutan itu langsung dipatahkan oleh kenyataan yang jauh lebih ramah dari bayangannya.

“Sangat di luar ekspektasi saya, yaitu saya bertemu teman-teman yang sangat baik serta mentor atau atasan yang sangat ramah,” ucapnya, yang tak menemukan senioritas maupun diskriminasi terhadap pekerja baru.

Kegugupan serupa juga dirasakan Haidar yang mengaku canggung dan masih sungkan untuk bertanya atau mengerjakan sesuatu di hari pertama. Meski begitu, ia mewajarkan situasi tersebut, “Karena masih awal-awal, justru jadi momen buat belajar juga untuk memahami sekitar dan bagaimana kita bisa menyesuaikan diri nantinya,” katanya.

Nathan bahkan sempat overthinking karena takut berbuat salah, hingga mendorong dirinya mempersiapkan hari pertama sebaik mungkin. Namun, persiapan itu ternyata berlebihan.

“Ternyata aku mempersiapkan terlalu banyak hal jadinya banyak yang ga kepake di hari itu,” ujarnya.

Hari Pertama Kerja juga Ada Tantangan Fisik

Berhubungan langsung dengan klien membuat Nathan sempat insecure soal kualitas kerjanya sendiri—pertanyaan seperti “Gimana kalau jelek” atau “Ini bener nggak ya?” terus muncul di kepalanya. Untungnya, rasa tidak percaya diri itu tak berlanjut ke hari-hari berikutnya..

"Tapi aku hadapi dengan cara tadi, siapin sebelumnya hal-hal yang sekiranya bakal kita lakuin dan tentunya harus adaptif terhadap situasi dan belajar untuk hanya mengontrol apa yang kita bisa kontrol,” ucap Nathan.

Selain tantangan dari dalam diri, ada pula tantangan yang datangnya dari luar. Bagi Haidar yang pulang-pergi Bekasi-Jakarta, perjalanan menuju kantor menjadi ujian tersendiri di hari pertama, dengan total waktu tempuhnya hampir dua jam sekali jalan.

“Jujur hari pertama tuh rasanya capee bgt di jalan, bahkan pas pulang tuh ngebatin mulu ‘ini kapan si sampe rumahnya’,” keluhnya. Untungnya, di hari-hari berikutnya ia merasa lebih lebih terbiasa dan bisa lebih menikmati perjalanannya.

Ketika gaji pertama akhirnya cair, ketiga fresh graduate ini kompak merasa haru setelah melewati berbagai tantangan tersebut. Rasa syukur itu mereka wujudkan dengan membagi sebagian penghasilan pertama mereka kepada keluarga.

“Saya berikan untuk orang tua saya dan keluarga saya termasuk kakak, nenek dan sepupu,” ucap Nazla, yang merasa perlu membalas orang-orang tersebut atas bantuan mereka selama ia kuliah. Sisanya ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan kesenangan pribadi.

Pesan untuk Fresh Graduate yang Akan Bekerja

Nathan, yang tinggal di kos, mengalokasikan gaji pertamanya terutama untuk membayar sewa kos, sebagian lagi disisihkan untuk keluarga, dan sisanya untuk keperluan pribadi.

Sementara itu, gaji pertama Haidar turut menjadi pengingat sekaligus motivasi untuk terus berkembang. Sebagian gaji ia tabung, sebagian lagi diberikan kepada orangtua dan keluarga, dan sisanya digunakan untuk keinginan pribadi. Hal ini mengingat ia sudah mulai mampu menghidupi dirinya sendiri dari hasil kerja.

Ketika ditanya mengenai tips untuk fresh graduate lainnya, Nathan yang kini semakin percaya diri menjalankan tanggung jawabnya sebagai tutor mengatakan, percaya diri  kalau kamu bisa.

"Karena pasti ada alasan dan pertimbangan kenapa kamu di-hire, harus bisa adaptif, dan fokus ke apa yang bisa kamu kontrol," ujar dia.

Nazla dan Haidar menyampaikan pesan senada soal pentingnya keaktifan selama bekerja: jangan malu untuk bertanya maupun menjawab. Menurut mereka, realita dunia kerja yang jauh berbeda dari dunia kuliah yang menuntut fresh graduate untuk menjaga attitude dan lebih berinisiatif.

Ketiga cerita ini menunjukkan proses adaptasi di awal karier adalah hal yang wajar dan bisa dilewati. Seperti pesan Nazla untuk tetap semangat.

"Tetap semangat dan jangan takut mencoba.”

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |