Ulah Penggilingan Padi Nakal, Beras Harga Rp 8.000 Dijual Rp 17.000

15 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan adanya dugaan keuntungan tidak wajar sekitar Rp 2 triliun per bulan yang mengalir ke satu grup perusahaan penggilingan padi skala besar. Menurutnya, keuntungan fantastis tersebut diperoleh dari dugaan praktik penipuan mutu beras.

Pernyataan Amran ini merespons dan memperjelas potongan video Presiden Prabowo Subianto yang sempat ramai dibicarakan mengenai adanya penggilingan padi yang meraup untung Rp 2 triliun per bulan.

"Kami hitung kembali, nilainya sekitar Rp 2,08 triliun per satu perusahaan. Tentu tidak semuanya sama, tetapi ada satu perusahaan seperti itu. Namun, jangan hanya fokus pada hitungan angkanya, melainkan fokus pada indikasi kejahatannya," ungkap Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Ia membeberkan asal-usul angka Rp 2 triliun tersebut. Amran memulai penjelasannya dari alokasi anggaran program Ketahanan Pangan 2025 yang mencapai Rp 144 triliun. Anggaran itu didistribusikan untuk menghasilkan padi senilai Rp 537 triliun dari total produksi 34,69 juta ton, berdasarkan acuan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 13,5 juta per ton dan harga rata-rata Kementerian Perdagangan sebesar Rp 15,5 juta per ton.

Nilai produksi padi tersebut terbagi ke beberapa sektor:

  • PT Pupuk Indonesia: Rp 46,8 triliun
  • Perum Bulog: Rp 16 triliun
  • Petani: Rp 215 triliun
  • Perusahaan/Korporasi: Rp 259 triliun

Pada kategori perusahaan inilah Amran menyoroti adanya satu grup perusahaan besar yang meraup untung hingga Rp 2 triliun setiap bulannya.

Angka tersebut dihitung dari akumulasi potensi kerugian total konsumen yang mencapai Rp 98 triliun, akibat penjualan beras yang tidak sesuai standar mutu premium. Amran menyebut ada selisih harga hingga Rp 9.300 per kilogram dari harga kelayakan ke harga jual beras kelas premium.

"Beras yang harusnya seharga Rp 8.000 per kg karena kualitas standar, dijual seharga Rp 17.000 per kg. Ini pembuktiannya. Total kerugian konsumen dihitung secara detail mencapai Rp 98 triliun hingga mendekati Rp 100 triliun, dan di dalamnya ada porsi Rp 2 triliun per bulan milik satu perusahaan korporasi tersebut," jelas Amran.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |