Terjual Tiap 15 Detik, Strategi Longchamp Kuasai Pasar Global

1 month ago 81

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah lanskap industri busana dan barang mewah yang kian didominasi oleh konglomerasi raksasa, mempertahankan keberlanjutan bisnis keluarga independen selama puluhan tahun bukanlah hal yang mudah. 

Mengubah produk kerajinan kulit biasa menjadi simbol gaya hidup yang prestisius dan dikenal di seluruh dunia membutuhkan perpaduan antara warisan autentik, keahlian tinggi (savoir-faire), serta inovasi yang adaptif. Longchamp, rumah mode independen asal Prancis, berhasil membuktikan keunggulannya dalam ranah ini.

Berawal dari inovasi unik pipa tembakau berbalut kulit di Paris, Longchamp bertransformasi menjadi salah satu pelopor kemewahan terjangkau (accessible luxury) berskala global. Melalui kombinasi kedisiplinan pengembangan produk, peluncuran lini ikonik Le Pliage, kemitraan teknologi ritel strategis, serta keberhasilan mempertahankan kepemilikan keluarga secara mutlak, Longchamp membuktikan bahwa fleksibilitas dan orientasi jangka panjang mampu mengantarkan produk kerajinan kulit menjadi ikon mode yang tak lekang oleh waktu. 

Dilansir dari situs resmi Longchamp, Sabtu (1/8/2026), perjalanan panjang Longchamp berakar dari keberanian Jean Cassegrain dalam melihat peluang bisnis pasca-Perang Dunia II. Sejarah rumah mode ini dimulai pada 1 Februari 1948 ketika Jean Cassegrain mengambil alih toko tembakau 'Au Sultan' milik orang tuanya di Paris. Langkah terobosannya dimulai dengan melapisi pipa tembakau kayu menggunakan kulit mewah, sebuah kreasi artisanal yang langsung menarik perhatian pelanggan internasional dan masyarakat urban Paris.

Nama 'Longchamp' sendiri diambil dari nama arena pacuan kuda dan kincir angin terkenal di Paris, yang dipadukan dengan logo kuda pacu melesat hasil rancangan Turenne Chevallereau sebagai simbol keanggunan.

Ekspansi bisnis Longchamp berlanjut pesat ketika mereka merambah produk aksesori kulit kecil seperti sampul paspor pada dekade 1950-an. Keputusan strategis mendirikan gerai di Terminal Bandara Orly Sud pada tahun 1961 menjadi batu loncatan besar untuk memperkenalkan koper dan tas perjalanan Longchamp kepada para wisatawan internasional serta selebriti dunia. Pada tahun 1971, di bawah kepemimpinan generasi kedua melalui Philippe Cassegrain, Longchamp resmi meluncurkan koleksi tas tangan wanita pertamanya.

Mengutip ELLE UK, keunikan utama Longchamp terletak pada posisinya sebagai salah satu dari sedikit rumah mode dunia yang 100% masih dimiliki dan dikelola secara privat oleh keluarga pencetusnya. Memasuki generasi ketiga dan keempat, di mana Jean Cassegrain menjabat sebagai CEO, Sophie Delafontaine sebagai Direktur Kreatif, dan Olivier Cassegrain mengawasi pasar AS, Longchamp tidak terikat pada tekanan laporan keuangan kuartalan investor publik.

Hal ini memungkinkan mereka mengambil keputusan cepat, berani berinovasi, serta berfokus pada visi strategi jangka panjang. Hasilnya, Longchamp mencatatkan lonjakan pendapatan hingga 20% pada tahun 2024, mengoperasikan lebih dari 350 gerai mandiri di seluruh dunia, dan mencatatkan pertumbuhan pesat di berbagai wilayah seperti Eropa, Amerika Serikat, dan Asia.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |