Tahan Banting! GoTo Cetak Laba di Tengah Tantangan 8%

6 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo), induk dari layanan ride-hailing Gojek dan layanan fintech GoPay kembali mencetak laba bersih di Kuartal II-2026 sebesar Rp252 miliar. Pencapaian ini membuktikan kemampuan fundamental bisnis perusahaan yang kuat di tengah tantangan industri ride-hailing yang menerapkan skema bagi hasil baru sebesar 8% sejak 1 Juli 2026.

Pencapaian ini melanjutkan kinerja positif GoTo setelah sebelumnya meraih laba bersih pertama kali di kuartal I-2026 sebesar Rp171 miliar. Di kuartal ini, GoTo mencatatkan peningkatan Gross Transaction Value (GTV) inti sebesar 83% secara tahunan, menjadi Rp164 triliun dan pendapatan bersih yang meningkat 31% year-on-year menjadi Rp5,7 triliun.

Dalam keterangan resmi pada Rabu (29/7), Direktur utama GoTo Hans Patuwo mengungkapkan perusahaan mampu mengatasi dampak kebijakan skema bagi hasil baru yang ditetapkan pemerintah berkat kekuatan ekosistem. Sebelumnya berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026, GoTo sebagai perusahaan yang memayungi aplikator Gojek berhak mendapat komisi 8% dari biaya perjalanan angkutan penumpang roda dua, turun dari sebelumnya sebesar 20%.

“Struktur ini berlaku untuk bisnis transportasi roda dua Gojek, yang menyumbang sekitar 7% dari pendapatan bersih Grup. Dampak dari perubahan komisi ini akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga. Namun, setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil,” tulis Hans dalam Siaran Pers yang diterima pada Rabu (29/7).

Hans menjelaskan meski setelah satu bulan kebijakan berjalan kondisi bisnis tetap stabil, namun GoTo harus melakukan beberapa penyesuaian. Salah satunya perseoran menurunkanpedoman kinerja layanan On-Demand services (bisnis yang memayungi layanan angkutan GoRide dan GoCar serta layanan delivery) untuk setahun penuh menjadi Rp1,4-1,5 triliun, dari sebelumnya Rp1,7-1,8 triliun, sebagai dampak dari implementasi komisi 8%.

Meski pedoman kinerja On-Demand services diturunkan, GoTo tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp3,2-3,4 triliun. Hal ini ditopang oleh kinerja bisnis fintech GoPay yang unggul, sehingga pedoman kinerja Fintech untuk setahun penuh menjadi Rp1,7-1,8 triliun, dari sebelumnya Rp1,4-1,5 triliun.

“Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya. Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar,” ujar Hans.

Diketahui dari laporan kinerja keuangan Kuartal II-2026, keuntungan bisnis fintech GoPay kini telah melebihi On-demand Services. Berkat pertumbuhan kedua lini bisnis ini GOTo mencatatkan peningkatan 137% EBITDA Grup yang disesuaikan secara tahunan, melampaui Rp1,0 triliun untuk pertama kalinya.

“Bisnis Fintech kami juga terus menunjukkan kinerja yang unggul. Kini, profitabilitasnya telah melebihi bisnis On-demand Services. Hal ini menunjukkan kekuatan dan keseimbangan ekosistem kami,” ungkap Hans.

Lebih lanjut, Hans menyebut meningkatkan kesejahteraan mitra tetap menjadi prioritas GoTo. Pencapaian yang diraih perseroan akan kembali diinvestasikan ke ekosistem GoTo untuk mendukung mitra driver melalui berbagai Program Apresiasi Mitra.

“Seiring dengan berkembangnya ekosistem, kami terus berinvestasi untuk mendukung pelanggan kami, termasuk mendukung Mitra Driver Gojek, di antaranya melalui perluasan Program Apresiasi Mitra, mulai dari BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, Beasiswa hingga Umrah gratis. Bagi kami, kesuksesan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak di dalam ekosistem GoTo,” tutup Hans.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |