Prediksi Harga Emas Sepekan, Konflik Timur Tengah Membayangi

15 hours ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Berdasarkan survei emas mingguan Kitco, analis wall street bersikap ragu-ragu terhadap prospek emas dalam jangka pendek. Bahkan, harga emas diprediksi melemah di tengah sentimen geopolitik Timur Tengah. Sementara itu, pelaku pasar tetap yakin harga emas membaik usai kembali bertahan di level support US$ 4.000., 

Mengutip Kitco, Senin (27/7/2026), pekan lalu, 18 analis berpartisipasi dalam survei emas Kitcon dengan sentimen wall street menilai sangat bearish dan tidak pasti setelah kinerja emas belum meyakinkan. Empat analis atau 22% memprediksi harga emas naik pekan ini. Sedangkan tujuh lainnya mewakili 39% dari total memprediksi penurunan harga. Tujuh lainnya melihat logam mulia akan terus bergerak mendatar.

Di sisi lain, 249 suara diberikan dalam jajak pendapat Kitco. Investor Main Street menjadi lebih bullish setelah level support emas bertahan sekali lagi di US$ 4.000.

Sementara itu, 147 pelaku pasar ritel atau 59% memperkirakan harga emas naik. Sedangkan 48 lainnya atau 19% memprediksi logam mulia ini akan turun. 54 investor yang tersisa,  yang mewakili 22% dari total memperkirakan terjadi konsolidasi lebih lanjut pekan ini.

Analis Senior Barchart.com, Darin Newsom menuturkan, harga emas akan sideway. Dari sisi teknikal, ia menilai tidak banyak alasan bagi kontrak berjangka Desember untuk keluar dari kisaran penutupan harian antara US$ 4.048,70 pada 16 Juli dan US$ 4.210 pada 22 Juli 2026.

Ia menambahkan, terakhir kali emas untuk Desember ditutup di atas DMA 45 pada 16 Maret antara US$ 5.150,30-US$ 5.148. “Selain itu, indikator stochastics harian dan volatilitas tersirat keduanya netral menjelang akhir pekan,” Darin menambahkan.

Prediksi Harga Emas

Sementara itu, President of Adrian Day Asset Management, Adrian Day menuturkan, harga emas naik. Ia meski optimistis dengan hati-hati, pihaknya melihat kalau pelaku  pasar belum keluar dari kesulitan. Hal ini seiring the Federal Reserve (the Fed) menaikkan suku bunga acuan bahkan ketika ekonomi China melambat dan langkah-langkah stimulus diterapkan.

Ia mengapresiasi harga emas tidak berubah selama tujuh hari terakhir, turun lalu naik di tengah konflik yang semakin intensif di Iran. Selain itu, pergerakan harga emas terjadi di tengah harga minyak dan dolar AS yang menguat, serta harapan kenaikan suku bunga the Fed sebelum akhir tahun.

“Ketika suatu aset, aset atau pasar apa pun, tidak turun di tengah perkembangan negatif, itu adalah tanda bullish,” ujar dia.

Selain itu, President dan COO of Asset Management, Rich Checkan menilai, harga emas stabil. Ia menilai saat ini di pasar memiliki dua kekuatan yang bekerja saling berlawanan di sini, yang ditunjukkan dari harga minyak di atas US$ 100 per barel dan level support kuat di US$ 4.000.

“Setelah beberapa kali menguji dukungan di US$ 4.000, saya melihat itu akan terus bertahan. Tetapi selama ketegangan di Timur Tengah terus menekan harga minyak dan kekhawatiran inflasi, akan sulit bagi emas untuk bergerak lebih tinggi secara signifikan,”  ujar dia.

Sentimen Geopolitik Batasi Kenaikan Harga Emas

Manager of Market Analysis FXTM, Lukman Otunuga menuturkan, harga minyak mentah Brent yang melampaui US$ 100 telah memberikan pukulan berat bagi emas dengan reaksi berantai yang sekarang sudah mapan.

Otunuga menambahkan, harga minyak yang tinggi memicu kekhawatiran inflasi yang telah meningkatkan taruhan kenaikan suku bunga Federal Reserve. Ini telah menyebabkan dolar yang lebih kuat dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah mengekspos emas yang tidak menghasilkan imbal hasil terhadap risiko penurunan.”

"Meskipun harga mungkin sedikit naik karena kekuatan teknis, ketegangan geopolitik kemungkinan akan membatasi ruang lingkup pemulihan emas yang berkelanjutan,” Otunuga memperingatkan.

Chief Market Strategist SIA Wealth Management, Colin Cieszynksi menuturkan, ketidakpastian seputar stabilitas harga dan Timur Tengah menciptakan banyak risiko di sekitar potensi posisi emas.

“Emas mengalami kenaikan yang sangat besar,” ujar dia.

“Saya pikir sebagian besar dampak perang sudah tercermin dalam harga, tetapi saya rasa penurunan harga dari US$ 5.500 menjadi US$ 4.000 tidak sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran tentang perang. Itu memang menghilangkan sebagian kekhawatiran tentang perang, tetapi tidak semuanya. Jadi, harga emas sudah tinggi, dan ada kekhawatiran bahwa ini akan menyebabkan kenaikan suku bunga,” kata dia.

Rilis Data Ekonomi

Cieszynski menuturkan, harga emas akan tetap berada di kisaran US$ 3.960-us$ 4.170 per ons hingga pekan ini.

Setelah salah satu pekan dengan berita ekonomi paling lambat tahun ini, pekan ini menjanjikan lebih banyak  bagi pasar, termasuk keputusan suku bunga Juli dari Federal Reserve, Bank of England, dan Bank of Japan, kepercayaan konsumen, dan data awal PDB kuartal kedua.

Rilis penting pertama pekan ini adalah laporan Kepercayaan Konsumen untuk Juli pada Selasa pagi, setelah itu para pelaku pasar akan mengalihkan perhatian mereka ke keputusan suku bunga dan konferensi pers Komite Pasar Terbuka Federal pada Rabu sore.

Kemudian Kamis pagi akan menghadirkan keputusan kebijakan moneter Bank of England, diikuti oleh PDB dan PCE AS kuartal kedua serta klaim pengangguran mingguan, dengan keputusan kebijakan moneter Bank of Japan yang akan dirilis semalam.

Pekan ini ditutup dengan rilis data revisi Sentimen Konsumen Universitas Michigan untuk Juli pada Jumat pagi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |