Harga Minyak Dunia Melemah Pekan Ini, Investor Menanti Kesepakatan AS-Iran

14 hours ago 17

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia mencatat pelemahan selama pekan ini setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran memberikan sinyal adanya kemajuan dalam pembicaraan untuk mengakhiri konflik. Meski demikian, ketidakpastian masih membayangi pasar karena kedua pihak belum mencapai kesepakatan penuh terkait sejumlah isu utama.

Mengutip CNBC, Minggu (24/5/2026), harga minyak mentah Brent sebagai acuan internasional naik 96 sen dan ditutup di level USD 103,54 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 25 sen ke posisi USD 96,60 per barel.

Meski ditutup menguat pada perdagangan terakhir, secara mingguan harga minyak masih berada dalam tren pelemahan. Minyak Brent tercatat turun lebih dari 5 persen sepanjang pekan ini, sedangkan minyak mentah AS terkoreksi lebih dari 8 persen.

Penurunan harga terjadi setelah Presiden Donald Trump pada Senin lalu mengatakan dirinya menunda serangan yang sebelumnya direncanakan terhadap Iran untuk membuka peluang negosiasi lebih lanjut.

Namun, perkembangan menuju kesepakatan tersebut masih belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran pelaku pasar.

Selat Hormuz Masih Jadi Topik Utama

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut terdapat sinyal positif bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik mulai terlihat.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa proses menuju perdamaian dapat menemui hambatan apabila Iran tetap berupaya mengendalikan jalur pelayaran di Selat Hormuz secara permanen.

"Terlihat ada tanda-tanda yang baik bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik mulai terlihat," kata Rubio.

Namun dia menambahkan, kesepakatan seperti itu akan menjadi "tidak realistis" jika Iran menerapkan kebijakan yang mengarah pada penguasaan permanen atas lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Sementara itu, analis dari ING menilai pasar masih berupaya mencari kepastian mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran.

"Pasar masih mencari tanda-tanda kemajuan dalam potensi kesepakatan antara AS dan Iran. Meskipun ada tanda optimisme, ketidakpastian masih mendominasi," tulis tim strategi ING dalam catatan risetnya.

Mereka menambahkan bahwa kondisi serupa pernah terjadi sebelumnya, ketika kesepakatan terlihat hampir tercapai tetapi akhirnya negosiasi kembali gagal.

Dampak Krisis Energi

Di sisi lain, kekhawatiran terkait pasokan minyak global masih membayangi pasar. Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperingatkan bahwa pasar energi berpotensi memasuki fase kritis seiring meningkatnya permintaan perjalanan selama musim panas dan mulai menurunnya stok minyak global.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan solusi paling penting untuk meredakan guncangan energi akibat konflik Iran adalah pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh tanpa syarat.

Menurut dia, negara berkembang di kawasan Asia dan Afrika akan menjadi pihak yang paling merasakan dampak krisis energi tersebut.

Biasanya sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG) global melewati Selat Hormuz. Namun, aktivitas pelayaran di jalur strategis itu dilaporkan hampir terhenti sejak serangan yang dipimpin AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari.

Lembaga keuangan MUFG juga memperingatkan proses normalisasi penuh pasokan minyak dari Timur Tengah kemungkinan baru bisa tercapai pada 2027 mengingat besarnya gangguan yang ditimbulkan konflik tersebut.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |